Saya mau sharing pengalaman nge-Grab yang tidak perlu dicontoh, karena menerima order tanpa perhitungan matang. Kalau dari pov Grab sebagai penyedia aplikasi, dari customer pasti positif dan mereka senang. Tapi dari sisi pov mitra dan keluarga mitra itungannya rugi.
Inti pelajarannya saya sampaikan di awal, ketika menerima orderan dan memutuskan orderan akan diambil atau tidak, perhitungkan banyak hal, terutama orderan² jauh, meski nominalnya besar tapi perhitungkan itu. Masuk tidak dari sisi biaya dan keluargamu bagaimana setuju apa tidak. Karena kalau tidak yang ada itu hanya akan merepotkan mu saja dan bikin tidak konsentrasi di jalan. Ini hanya cocok untuk mitra yang berstatus jomblo tak punya keluarga dan hidup hanya untuk diri sendiri, melayani itu adalah 'jalan ninja' terbaik dalam hidup. Tapi selain dari itu lebih baik pertimbangkan matang².
Jadi ditanggal 23-03-2026 yang lalu hari itu saya sebenarnya sudah ada janji jemput keluarga jam 20:00 di Stasiun Pasar Turi, Surabaya.
Hari itu memang saya libur, jadi sebenarnya saya bisa ambil order untuk nambah pendapatan sampingan. Namun pagi hingga siang itu sepi sekali orderan di Pandaan.
Rencana saya ini: dari pagi saya sudah ke Surabaya, narik di sana sambil menunggu jemputan jam 8 malam. Tapi ternyata orang dekat menyarankan lain, suruh saya stay di Pandaan dan sore baru ke Surabaya. Padahal kalau di Surabaya saya yakin bisa dapat lebih banyak dengan trip di dalam kota. Tapi daripada ribut, diiyakan saja waktu itu. Alhasil saya narik di Pandaan.
Ketika sore saya coba narik dan dapatlah itu trip pertama ke Kota Pasuruan. Rencananya sore itu menunjukan pukul 16:00, saya otw arah Surabaya dengan setting di aplikasi tujuan Surabaya. Eh belum saya lakukan, orderan masuk lah. Nominal besar dan tanpa pikir panjang saya ambil, pikir ya gak terlalu jauh.
Jadi kaya begini, sebelumnya tujuannya tertulis Malang, tapi ternyata Pasuruan. Nah ini tertulis Blitar, saya pikir ya deket² Malang lah, masih oke. Tapi ternyata ini bener² Blitar, kotamadya nya pula, estimasi waktu 5 jam perjalanan. Salahnya itu semua baru saya perhitungan setelah saya mengiyakan orderan dan memutuskan setuju membawa penumpang. Saya hanya takut kalau dicancel performa saya jadi buruk dan merusak orderan otomatis yang selama ini saya terima, alhasil saya memilih ambil.
Ternyata ini membawa masalah, keluarga ngamuk, yang satu gak terima atas kebodohan saya itu, satu lagi kecewa karena sudah janji jemput ontime akhirnya terlambat hingga beberapa jam.
Alhasil saya membawa penumpang dengan tidak tenang, kepala dipenuhi beban pikiran. Wes campur aduk gak karuan. Alhasil ini jadi perjalanan antar kota kabupaten yang melelahkan secara fisik dan mental.
Perjalanan Menuju Kota Blitar
Perjalanan menuju Kota Blitar ini saya lewat jalur tol mulai dari GT Purwodadi keluar GT Sawojajar. Selanjutnya dilanjutkan jalur biasa yang sempit dan padat. Tanggal itu adalah tanggal arus balik mudik, jadi ramai sekali.
Kota Pasuruan - Kabupaten Pasuruan - Kabupaten Malang - Kota Malang- Kabupaten Malang - Kabupaten Blitar dan tiba di Kota Blitar sesuai tujuan alamat.
Perjalanan berangkat saya pakai mode berkendara normal, karena saya bawa penumpang. Meski saya gak sabar karena stres keluarga ngamuk², saya tetap berusaha tenang dan sabar dalam berkendara.
Sempet juga mau laka tapi untung nyaris dan saya masih dilindungi, efek nama baptis asal saya adalah St. Christopher yang katanya sebagai pelindung perjalanan. Mungkin jika saya membawa nama lain ceritanya berbeda.
Di perjalanan sempet berhenti beberapa kali, pertama itu istirahat makan di daerah Kepanjen (selepas Kepanjen), kemudian isi BBM di arah mau menuju bendungan, lalu istirahat lagi (ke toilet di Indomaret) setelah lepas bendungan.
Selesai menurunkan penumpang rasanya legah, karena saya tinggal mikirkan bagaimana jalur tercepat menuju Surabaya sesegera mungkin, kalau bisa terbang ya terbang deh.
Diwaktu yang singkat itu, saya coba kalkulasi dengan GMaps, rute tercepat mana. Karena melihat jalur arah balik yang tadi saya lewati itu macetnya ampun²an, dibeberapa titik macet gila, gak ngebayangin saya balik lagi di jalur itu dan ketahan macet, bisa gila saya.
Akhirnya diputuskan saya memilih jalur Blitar - Kediri - Jombang - Mojokerto - Surabaya. Jalur yang estimasi waktu tempuhnya sekitar 4,5 jam ketika itu. Itu tidak tahu macet atau tidak, karena tidak tergambar dengan pasti dari GMaps.
Perjalanan Blitar - Surabaya
Settingan GMaps sudah sesuai, saya coba menuju Surabaya dengan arah Maps yang sudah disetting itu. Awal saya setting tanpa tol, karena mengingat saldo e-money saya terbatas hanya 50K saja, jadi saya harus sesuaikan dengan rute tercepat dan biaya yang efisien.
Saya tahu bahwa jarak ini tidak bisa dipangkas, yang bisa dipangkas itu cuma waktu tempuhnya, cara pangkasnya cuma dengan menaikan kecepatan kendaraan yang saya naiki ini.
Logika sederhana yang saya pakai, jika jaraknya itu 70 km, butuh waktu 1 jam jika saya menggunakan kecepatan konstan 70 km/jam, saya bisa lebih cepat lagi dari satu jam jika saya tingkatkan kecepatan saya diatas 70 km/jam.
Akhrinya saya memacu SiDat dengan gila²an, kebetulan jalan sepi. Jadi jalan daerah yang sempit yang harusnya di sana maksimal kecepatan di 40 km/jam saya lajukan kendaraan di 60-70 km/jam. Di jalan yang agak lebar bisa 1-2 mobil bejejer saya pacu 90-100 km/jam. Sisanya pas sudah sampai Surabaya saya ada akses tol, saya pacu > 100 km/jam.
Alhasil itu saya bisa pangkas waktu tempuh yang cukup lumayan, hingga sejam sendiri, sekitar 3,5 jam bisa saya capai. Bener² gila sih, pokonya saya gak mau ada di belakang kendaraan lain, karena mereka itu lambat.
Saya beruntung jalur yang saya pilih ini lengang banget, sempet diguyur hujan juga, cerah, hujan lagi. Selain itu beruntung lagi ban gak bocor, itu yang saya khawatirkan selama perjalanan.
Jadi selama perjalanan saya blas gak mengamati saya sudah lewat mana, ada apa di kiri kanan, sudah pokoknya saya melaju hanya lihat kilometer yang semakin berkurang karena menuju lokasi tujuan.
Saya hanya lihat atau tertarik pada penanda arah yang menunjukan ke arah Gunung Kelud, nah di situ saya mikir wah gila ya perjalanan saya ini, saya pernah mau menuju ke arah gunung itu, katanya sih bagus view nya. Entah kapan saya bisa ke sana, kayanya gak akan mungkin deh.
Saya cukup tenang ketika melintas di daerah Mojokerto, di mana saya sering lewat jalur itu, kemudian arah Gresik, hingga akhirnya saya menemukan jalur masuk tol ke arah Surabaya. Sudah makin tenang langsung makin gas poll hingga akhirnya tiba di stasiun.
Setelah semuanya selesai, saya lihat timeline perjalanan saya di GMaps, ternyata saya melakukan perjanalanan memutar, dan itu gila sih. Total kilometer yang ditempuh hari itu, dalam satu hari habiskan 383 km.
Ini perjalanan singkat dan melelahkan, gila saya bener² kurang tidur, karena saya istirahat hanya sebentar, pagi jam 4 sudah keluar rumah lagi, walau akhirnya rencana berikutnya kacau berantakan.
Itu dia jurnal yang bisa saya catat, sebagai pengenang dan pengingat yang baik. Pelajaran yang sangat berharga, "jangan jadi hamba uang", selalu berpikir sebelum melakukan, karena saat ini saya tak lagi sendiri, banyak kepentingan ada pada diri saya.
Kalau seperti ini terkadang berpikir lebih baik hidup sendiri, karena semua keputusan mau salah atau benar, semua ada ditangan mu sendiri, bukan ditangan orang lain.
Tapi sudahlah, hidup telah dituliskan begini, lakukan saja yang terbaik, semua pasti ada hikmahnya. -cpr
#onedayonepost
#jurnal
#jalanjalan
#umum
#blitar

No comments:
Post a Comment