Showing posts with label First Impression. Show all posts
Showing posts with label First Impression. Show all posts

Sunday, February 15, 2026

Trip Trans Jawa Timur Koridor K1 : Batu - Kayutangan

February 15, 2026 0 Comments
Menikmati aktivitas awal pekan diweek pertengahan Februari 2026 ini saya dan Dewi sedang berada di Kota Batu. Kami ingin mencoba moda transportasi umum yang diprakarsai Pemprov, Trans Jatim yang dioperasikan menghubungkan Kota Batu dan Kota Malang.
 

Transportasi umum ini nampaknya disambut positif masyarakat Kota Batu dan Kota Malang. Program yang baik ini mendukung pariwisata di dua tempat berbeda ini. Serta juga mendukung pergerakan ekonomi warga dari satu tempat ke tempat lain. Secara tidak langsung juga mengajak warga untuk menggunakan moda transportasi umum, guna mengurangi kepadatan di ruas penghubung dua tempat ini dari kendaraan warga lokal. 

Halte yang kami naiki waktu awal berangkat

Siang ini saya pergi berempat, start dari halte daerah RS Baptis, Batu tujuan ke kawasan Kayutangan Heritage, Kota Malang. 

Di halte ini ada fasilitas colokan listrik buat charger, sederhana tapi membantu sekali

Arah pulangnya kami naik dari halte seberang MOG dan turun di halte sebelum RS Baptis, seberang Indomaret kalau gak salah, daerah Tlekung, Batu. 

Bus Trans Jawa Timur yang yang naiki ini adalah bus koridor K1. Bus koridor ini dinamai Gajayana. Mulai beroparsi November 2025 yang lalu. Rute awalnya adalah Terminal Hamid Rusdi (Malang) dan Terminal Batu. Jam operasional mulai pukul 04:00 sampai dengan pukul 22:00.

Jarak dari Malang - Batu sekitar 42 km dan arah Batu - Malang sekitar 39,35 km. Untuk tarifnya itu Rp 5.000,- untuk orang dewasa dan umum, ada tarif subsidi untuk mahasiswa. Anak dengan tinggi tertentu juga dikenai tarif normal. 


Sewaktu berangkat itu bus relatif ramai, banyak penumpang berdiri di bagian tengah bus, ya walau tidak berdesak-desakan, tapi pagi itu cukup ramai sekali sih. 

Sensasi naik bus ini ketika berdiri adalah sensasi goyangannya, karena ketika ada di wilayah Batu, Sengkaling, Tlekung itu jalurnya belak-belok, jadi ada sensasi bergoyang kanan-kiri, seru sih ini. 

Saya jadi ingat momen ketika saya hidup di Jakarta, naik kendaraan umum seperti ini jadi makanan sehari-hari. Saya menikmati naik transportasi ini, walaupun harus berdiri sejak awal sampai akhir perhentian. 


Sampai di Kayutangan, halte tidak jauh dari Gereja Katolik yang di simpangan Kayutangan, saya pernah ke sana, tapi lupa nama parokinya. 

Ngemil jadah bakar, sambil duduk di kursi² yang tersedia di trotoar

Sampai sana jajan cilok dulu di halte. Lalu kami berjalan ke arah perempatan yang ada Lafayette, kemudian lanjut terus ke swalayan Lai-lai untuk belanja kue basah dan bumbu masak tertentu.

Ini pas mau menuju swalayan Lai-lai

Belanjaan dari Lai-lai, gak banyak tapi perlu


Dari situ berjalan lagi ke arah MOG, kita muter waktu itu, sempet berhenti di sebuah masjid yayasan Khadijah kalau gak salah. Kebetulan ada tukang jualan bakso malang pikulan, kami beli dan makan di pinggir jalan, sembari menunggu ada yang sembahyang. 


Total perjalanan jalan kaki ini habiskan jarak 2 km sepertinya ya, dari turun halte sampai naik halte lagi, dengan rute memutar. 

Suasana Kayutangan Heritage ya ramai sih, banyak orang berwisata di sana, entah memang mereka orang Malang atau luar Malang tidak bisa dipastikan. Seru jika pas ke sini lagi ada momen² acara tertentu jadi ada yang dilihat. 

Ini pov di dalam bus, enak lho naik bus begini terus tidur, bus nya nyaman, AC nya dingin pula

Ini saya foto dari kursi belakang, yang agak ke bawah, baru awal masuk bus, kursi yang depan masih keisi, jadi duduk di sini dulu

Pas naik bus K1 arah kembali ke Batu kebetulan kita naik bus yang sama sewaktu berangkat tadi, kami mengenali dari mas petugasnya. Kita pulang itu sepi, ya setidaknya kita berempat bisa dapat tempat duduk, nyaman duduk sampai perhentian terakhir di halte sebelum RS Baptis. 

Dari situ kami lanjut jalan kaki ke arah rumah, gak jauh, ya lumayan untuk berolahraga memperbanyak langkah dan kilometer jarak. 

Itulah kira² jurnal aktivitas jalan² di awal pekan ini, ya pekan kejepit karena Senin besok kejepit libur imlek, buat yang punya libur ya enak bisa menikmatinya, tapi buat pekerja 'kasar' ya tetap masuk kerja, kalau gak dapat uang dari mana buat berlibur apalagi sedang mempersiapkan suatu acara begini. #semangat

Sampai jumpa dicatatan jalan² lainnya lagi. Segitu saja yang ingin saya rekam di sini. -cpt

#onedayonepost
#firstimpression
#jalanjalan
#jurnal
#transjatim
#gajayana

Sunday, July 27, 2025

Jalan-jalan Jajan Trip Pacet Mojokerto

July 27, 2025 0 Comments
Awal pekan ini, saya melanjutkan jurnal di blog traveling, sebelumnya saya ada tiga trip dibulan ini, nah ini mengakhiri bulan Juli, diawal pekan saya dan pasangan saya (Dewi), ditemani adiknya Dessy kembali ngetrip. Kali ini jalan-jalan jajan ke daerah Pacet, Mojokerto. 

Misi awal kita sebenarnya sekalian mampir ke salah¹ jemaat gereja yang sakit, teman satu pelayanan dari Dessy (multimedia) dan Dewi (stimulasi) juga. 

Suasana hijau ala² suasana Pacet, Mojokerto

Karena rumahnya di daerah Pacet, jadi sekalian saja kita jalan-jalan jajan di daerah sini. Datsun juga ini pertama kalinya melintas jalur ini. Paling sering ya mentok ke Cafe Black Dew, saya juga pernah posting di blog gaksukalapar.id kalau tidak salah. 


Kita berangkat langsung sepulang gereja, ibadah selesai jam 09:56 kami langsung meluncur ke arah Tretes, Trawas lanjut Pacet. 

Perjalanan siang ini relatif lancar, ada juga kendaraan lain yang menuju ke arah sana, tapi masih wajar dan normal sekali, tidak macet atau sampai tersendat. Bahkan biasanya sering terjadi hambatan di daerah Jurang Ampel (tanjakan tajam plus tikungan) kan sering tertahan antri tanjakan, kali ini bisa dilalui mengalir tanpa tersendat. 

Kami tiba di tujuan pertama itu sekitar jam 10:56, perjalanan kami sejam menuju tempat pertama ini, di rumah Siska. Di sini kita ngobrol dulu sebentar, sampai jam 11:09. Setelah itu kita lanjut jalan-jalan jajan deh. 


Dewi lagi kepengen nasi jagung katanya, dapat rekomendasi di daerah Pacet sini, pilihan pertama itu Warung Tegal Watu. Eh tapi pas sudah ketemu tempatnya, ramai cuy, kata tukang parkirnya gak ada tempat di dalam, di luar parkir mobil di pinggir jalan padat pararel mobil² plat luar daerah seperti L, W, AE, S, N. 


Jadi warung yang kami tuju ini posisinya dekat dengan kali gitu, sungai 'dalam', saya sebut 'dalam' karena agak menjorok ke bawah kalau mau bersentuhan langsung dengan air sungainya. 

Alhasil kita harus cari rekomendasi kedua, dikasi tahu katanya itu Warung Pawon Pesdowo, akhirnya ya kita berhenti dan memilih tempat ini. Lihat menu nya ternyata ada juga jual nasi jagung. 


Jadi di sepanjang jalan Dusun Sembong, Pacet ini banyak warung² tradisional yang jual makanan² tradisional berjejer, walau tidak rapat bejejer, tapi jarak sekian meter ya ada warung. View yang ditawarkan ya sawah, bukit hijau dan sungai jika yang bersinggungan dengan tepi sungai. 


Di sini kita makan siang dulu deh, warung yang murah meriah lah, makan siang bertiga di sini kami hanya habis Rp 65.000,- saja lho, menunya seperti apa kamu bisa baca di postingan blog saya yang tautannya ada di atas tadi. 

Kita di warung ini dari jam 11:19 sampai jam 12:35, total 1 jam 16 menit lah, ya lumayan menikmati siang yang sejuk di sini, soalnya kebetulan matahari di sini lagi gak terik. Untuk hawanya sendiri sih biasa aja, gak sejuk juga, gak ada dingin² nya kalau menurut saya. 
Ini arah balik ke Trawas, Prigen, Pandaan. #dokpri

Ini arah ke Bundaran Pacet, mentok kiri ke arah Batu, kanan ke arah Mojokerto, Mojosari, Surabaya. #dokpri

Ini pas parkir di pujasera Pacet, pas kebetulan gak ada tukang parkir, bebas dan free. Pas lagi gak ramai jadi parkirnya gampang. #dokpri


Itu simpangan yang arah Mojosari, Mojokerto, Jombang, Surabaya. #dokpri

Habis dari sini kita lanjut lagi ke arah bundaran Pacet, soalnya sudah sampai sini masa iya gak ke 'icon' bundaran Pacet ini, di sini juga banyak spot kuliner. Kebetulan Dewi kepengen yang berkuah-kuah. Jadi kita mampir ke kedai bakso. Kedai Bakso Bola Tenis Abah No, Pujasera Pacet. 


Kedai bakso yang di pujasera, Pacet. #dokpri

Kita makan di sana sebentar terus mampir ke tukang sayur pas deket tikungan bunderan, lurus arah simpangan ke arah Cangar, Batu, arah kanannya ke Mojokerto, Jombang dan sekitarnya. 

Selesai di sana kita meluncur kembali ke Pandaan via jalur yang sama kita berangkat tadi. Sekitar 13:05 kita sudah cabut meninggalkan Bundaran Pacet, go to Pandaan, dan tiba di Green View setelah 1 jam 8 menit, lebih lambat dari berangkat, maklum pas pulang ini ketahan mobil baru yang jalannya lelet sekali. 

Habis itu saya lanjut pulang ke rumah. Nganter Dewi dan Dessy pulang, kita beristirahat masing². Saya balik ke kontrakan untuk makan dan tidur siang, sepertinya ngantuk berat saya ini. 

Sore harinya, ternyata trip jalan-jalan jajan lanjut lagi. Kebetulan ada sahabat kecil Dewi dari Tumpang datang bersama suaminya, yaitu mba Ester dan Koko. Kapan lalu kita bertemu mereka ketika di Tumpang. 


Berhubung mereka di sini, Dewi mau ngajak jalan-jalan jajan ke Hutan Cempaka di Prigen, tempat langganan kalau saya dan Dewi kencan malam minggu. 

Tapi kali ini vibes nya kita jalan malam, jadi jam 19:29 kita baru start ke arah Hutan Cempaka. Ini paling malam sih kita pergi ke Hutan Cempaka. Kalau lihat schedule open di Google, khusus Sabtu - Minggu open until 22:00, jadi masih bisalah kita kongkow di sana. Perjalanan habiskan waktu 36 menit saja, jalanan lancar jaya. 

Kongkow di sini sampai jam 21:32, total 1 jam 27 menit dari jam 20:05. Sampai itu karyawan di sana pulang semua, Cafe Jaya Lestari itu juga sampai tutup, ini yang terakhir tutup. Cafe rumah pawonnya itu justru tutup lebih awal, sampe piring² di meja yang di atas itu gak sempet diberesin. 

Udara malam ini relatif dingin sih, sejuk habis hujan soalnya, tadi selepas magrib itu hujan deres di daerah Prigen sampai Jonggan, malah di Green View gak hujan, hanya gerimisan saja. Mungkin karena habis hujan itu udaranya jadi dingin sejuk gitu, enak banget sih vibes malam ini. 

Di area camp ground sepi sekali karena emang Minggu begini gak bakal ada yang camp, apalagi besok masuk kerja (bukan hari libur). 

Akhirnya aktivitas jalan-jalan jajan hari ini berakhir, jam 22:23 Dewi dan Dessy sudah di rumahnya dan saya kembali ke rumah saya untuk beristirahat, besok harus kembali bekerja lagi. 

Begitulah kira² jurnal jalan-jalan jajan saya, Dewi dan Dessy di awal pekan di akhir Juli ini, meski tanggal tua kita masih bisa jalan-jalan jajan, ya meski dengan budget ya serba ngepres. Jurnal yang bisa jadi nostalgia diwaktu yang akan datang. Sayang memang minim dokumentasi yang saya taruh di sini, maklum kamera smartphone saya rusak jadi minim dokumentasi. 

Resume perjalanan:
Total kilometer aktivitas jalan-jalan jajan hari ini PP, start Green View back to Green View lagi 68,8 kilometer. Ini hanya dihitung kita jalan-jalan saja, gak menghitung saya pulang, jadi hanya perjalanan ke tempat jalan-jalan jajannya saja.

Sampai jumpa di jurnal saya yang lainnya. See you next trip. -cpr

#onedayonepost
#jurnal
#jalanjalanjajan
#firstimpression
#pacetmojokerto
#awalpekan

Sunday, July 20, 2025

Trip On Day, Pandaan - Jember PP

July 20, 2025 0 Comments
Setelah baru semalam trip Pandaan - Probolinggo PP via jalur non tol yang memakan waktu hingga 10 jam, kali ini saya trip lagi ke Jember, juga PP. Berangkat pagi hari, sampai sore hari, kalau digenapin waktunya ya 12 jam perjalanan. 


Trip kali ini saya juga gak punya banyak dokumentasi sama sekali, soalnya seperti yang sudah saya ceritakan diblog di postingan lain hape saya kan bermasalah dikameranya, sehingga untuk dokumentasi hasilnya gak bagus. 

Trip kali ini sebenarnya adalah bagian dari jurnal pribadi saya pada Catatan Pribadi, jadi trip ini adalah bagian dari wisata keluarga dalam rangka persiapan pernikahan, namun karena ini hubungannya sama trip travelling, saya hanya ceritakan sisi perjalanan dan apa saja testimoni perjalan pertama saya touring driving ke Jember. 

Ilustrasi, gambar diambil dari Google

Tujuannya adalah GKT Jember (Gereja Kristus Tuhan) cabang Jember, Jawa Timur. Jadi tidak kemana-mana lagi, hanya satu tujuan saja. Jadi memang full hanya bisa merekam perjalanan trip dari berangkat hingga pulang.

Resume time line atau lini masa perjalanan memang terekam dalam GMaps dan saya terbantu dengan catatan rekaman tersebut, sehingga tiap menit perjalanan bisa dijelaskan menggunakan kerangka itu. 

Trip kali ini diikuti oleh Dewi, saya, Dessy dan Mama Nana. Kami berempat berangkat menggunakan Mira (Calya). Trip ini juga jadi yang pertama saya mengemudikan Mira dalam perjalanan panjang, estimasi dari GMaps itu jarak tempuhnya 156 km x 2 karena pulang pergi jadi total 312 km. Kita menggunakan tol untuk berangkat dan pulang. 

Kami berangkat start meninggalkan kediaman di GreenView sekitar jam 04:58 langsung ke arah Bangil, masuk GT Bangil. Melaju di tol yang lancar sekali pagi ini, ditemani semburat jingga ketika matahari terbit di ufuk. 

Kecepatan saya pacu di kisaran 100 km/jam saja, plus minus lah, saya pilih maksimal speed yang dianjurkan di tol. Sembari memastikan indikator eco di dasbor tetap menyala, ngejar rekomendasi efisiensi bahan bakar. 

Sekitar jam 05:47 kita berhenti sejenak di Rest Area KM833A, untuk kencing dulu. Udara pagi di sini terasa dingin, angin yang berhembus terasa sekali sejuknya. Di sini ada warung makan dan jajanan, kamar mandi dan toilet, mini market dan SPBU. 

Oh ya, saya mau komentar sedikit, di rest area ini fasilitasnya masih belum murni rest area pada umumumya, yang saya komentari adalah tidak 'ergonomis' dari masuk rest area hingga keluarnya, biasanya rest area dibuat flowing, kalau ini gak, semua dibuat menekuk, mau belok masuk rest area harus dengan tikungan patah, bahkan saat keluar pun begitu, alur flow kendaraan keluar juga gak seperti rest area pada umumnya. 

Di sini hanya sebentar saja, lalu perjalanan kami lanjutkan sejauh 64 km, baru setelah itu kita istirahat sekitar jam 07:19 - 07:52, ini kita makan pagi dulu mengganjal perut supaya gak masuk angin. Berhenti saja di pinggir jalan di depan sebuah counter pulsa. 

Selama perjalanan berangkat kami mendapati dua titik kemacetan, yaitu di pasar pisang dan kelapa. Di sini dua jalur tersendat karena aktivitas pasar ramai dan sedikit memakan badan jalan. Jika mau cari pisang dan kelapa di sini tempatnya, banyak sekali barangnya. 

Dan kemudian tersendat lagi di proyek jembatan di sekitaran Klakah #mungkin, di sana jalur dibuka tutup, untungnya kami dapat antrian di bagian depan jadi antriannya relatif lebih cepat. Sebenarnya GMaps arahkan ke jalan pintas belok kiri sebelum jembatan, tapi kami tidak memilihnya karena itungan nya sama bahkan jangan² lebih lambat, kecuali kita pengendara motor bisa sat-set. Lebih baik menunggu sambil istirahat. 

Dari lokasi itu perjalanan tinggal 29 km lagi untuk tiba di GKT Jember jam 08:22. Tiba di sana ibadah jam pertama masih belum selesai, ibadah jam kedua akan dimulai jam 09:15 dan kita akan ikut yang jam segitu. Sambil menunggu waktunya, saya bersiap dan yang lain juga bersiap-siap, ganti pakaian dan pakai sepatu. 

Jadi selama di Jember beberapa jam kami hanya stay di sini, titik GMaps pun tidak bergeser jauh. Hanya di kompleks GKT Jember, melintas beberapa meter di belakang gereja di sana ada pastores GKT Jember, di sana rumah Pdt. Joni tinggal bersama keluarganya. 

Ibadah GKT jam 09:15 lalu setelah ibadah kami ngobrol² di rumah sampai jam 13:45 kami meninggalkan GKT Jember perjalanan kembali ke Pandaan. 

Sempet berhenti sebentar di tengah perjalanan itu di sebuah SPBU entah di daerah mana, sebelumnya Klakah, yang ada perbaikan jembatan, jalur sistem buka tutup. Pada kesempatan pulang ini kami pun dapat antrian agak ke depan jadi antrinya tidak terlalu lama, serupa seperti yang waktu berangkat. 

Lanjut lagi perjalanan di Rest Area KM833B tol kami berhenti lagi istirahat, jajan di minimarket dan ke toilet.  Ini rest area seberang dari rest area yang saya ceritakan pada keberangkatan, sama² tidak flowing, rest area yang agak aneh sih bagi saya. Kami istirahat di sini lumayan lama, ya ada sih 44 menitan lah. 

Perjalanan kami lanjutkan dan tiba di Green View B18 jam 17:29 dengan selamat tanpa ada kekurangan sesuatu apapun, Puji Tuhan Haleluya 😇. 

Untuk biaya tol itu @ Rp 77.500,- sekali jalan, kalau dua kali berarti totalnya habis Rp 155.000,-. Untuk bahan bakar itu sebelum berangkat isi Rp 250.000,- Pertalite. 

Total kilometer tempuhnya 319,7 kilometer, rincian berangkat itu 172 km dan pulang 148 km, total digenepin ya 320 kilometer. Jika dibandingkan (realisasi/rata-rata) dengan rata² jarak tempuh by GMaps, itu lebih singkat jarak saat pulang, 148/156. Sedangkan berangkat 172/156.

Itulah dia jurnal one day trip kali ini. Selama perjalanan saya tak merasakan lelah sama sekali, wajar karena ada mood booster di samping saat mengemudi. 

Untuk testimoni jalan tol si gak ada, aman, kualitas jalan ya standar, so so masih okelah. Hanya memang karena traffic tol di jalur ini gak ramai jadi wajar penyediaan fasilitas di jalur tol ini seadanya saja, yang penting kebutuhan standar terpenuhi. Hanya disayangkan, ini kan jalur tol yang digunakan untuk wisata menuju Bromo via Probolinggo, seharusnya sih rest area ini juga bisa jadi sub pariwisata juga, jadi bisa diberikan fasilitas yang lebih nyaman. 

Testimoni untuk jalan nasional secara umum sih lancar, teraspal baik hanya tidak rata seperti orang jerawatan, gronjalan terasa ke dalam kabin mobil kelas LCGC, kurang halus sih. Terus jalurnya gak simetris kiri kanan, jadi menyulitkan overtake apabila ada truk lambat mengganggu kelancaran lalu lintas. Akhirnya banyak kendaraan yang over laping garis tengah saat menyalip dan ini membahayakan. 

Pas kemarin trip saya sih merasa beruntung, pas berangkat arah Jember lancar, secara waktu tempuh waktu berangkat waktu tempuhnya 3 jam 24 menit. Ini kita ada istirahat makan kurang lebih 33 menitan lah ya. 

Sewaktu pulang, saat meninggalkan Jember, arus kendaraan yang masuk Jember relatif padat dan ini suatu keberuntungan, sedangkan arah keluar Jember itu lancar jaya, walaupun gak menutup kemungkinan waktu tempuh lebih cepat. Saat pulang waktu tempuhnya 3 jam 44 menitan. Ini as istirahat kurang lebih 44 menit. 

Kesimpulannya:
Berangkat : 172 km / 3 jam 24 menit / istrahat 33 menit
Pulang : 148 km / 3 jam 44 menit / istirahat 44 menit
Bahan bakar isi Rp 250.000,-
Tol isi Rp Rp 155.000,-
First impression : drive Mira, ke GKT Jember, kenal Om Joni dan Tante Mega, dan jalan ke Jember. 

Segitu saja catatan jurnal perjalanan one day trip Pandaan - Jember PP. Kira² kita akan mau touring jalan² kemana lagi? Kita tunggu di jurnal perjalanan saya lainnya. -cpr

#onedayonepost
#jalanjalan
#jember
#gktjember
#jurnal
#firstimpression

Thursday, June 19, 2025

Trip Lokal Pandaan - Surabaya: Mencoba Transportasi Massal

June 19, 2025 0 Comments
Sudah lama saya tinggal di Jawa Timur, tapi belum pernah ngerasain moda komuter transportasi massal di sini. Kalau di Jakarta, terutama jabodetabek, urusan transportasi komuter banyak pilihan dan sudah terintegrasi baik. Kalau di Jatim ini masih terbatas. 

Ada moda komuter yang biasa dipakai pekerja sekitaran Jatim, antara Surabaya - Pasuruan - Malang - Blitar. Ya itu yang baru saya ketahui. Entah jika ada rute lainnya. 

Malam ini saya mau coba komuter dari Bangil menuju Surabaya menggunakan moda komuter dari KAI.

Saya sebenarnya mau menuju St. Pasar Turi untuk menuju Semarang. Tapi saya coba moda transportasi massal supaya irit. Biasanya saya naik mobil pribadi, biayanya ini bensin Rp 50.000,- dan tol itu kisaran Rp 30.000,- dan parkir Rp 10.000,- coba hitung totalnya sudah berapa. 

Saya mau coba yang lebih efisien berapa totalnya nanti? Memang dari sisi waktu, saya harus sper waktu lebih panjang. Tapi mungkin itulah harga yang harus dibayar, selisih dari biaya ini adalah harga sebuah waktu. Sekaligus harga sebuah pengalaman, berkomuter Bangil - Surabaya. 


Tiket saya pesan via KAI Access, tiket hanya Rp 6.000,- untuk kereta Comuter Line Supas, jam keberangkatan 21:45 dari Stasiun Bangil, dan tiba di Stasiun Surabaya Kota jam 23:08. Waktu tempuh sekitar 1 jam 23 menit. 


Sekedar informasi, Comuterline Supas adalah Comuterline Surabaya - Pasuruan (PP). Dikelola oleh PT KCI Daop 8 Surabaya. Melayani beberapa stasiun diantaranya Surabaya Gubeng, Wonokromo, Waru, Sidoarjo, Bangil dan Pasuruan. Layanan ini sudah ada sejak 1 Oktober 2024.

Stasiun Surabaya Kota? Kalian baru dengar apa sudah mengenal stasiun ini? Kalau saya baru dengar ini stasiun. Ternyata stasiun ini dikenal juga dengan nama Stasiun Semut. Merupakan merupakan stasiun kereta api kelas besar tipe B yang terletak di Bongkaran, Pabean Cantian, Surabaya; termasuk dalam pengelolaan Daerah Operasi VIII Surabaya dan KAI Commuter pada ketinggian +4 meter dengan jarak 828,4 km arah tenggara dari Jakarta Kota. Didirikan pada tahun 1878, Stasiun Surabaya Kota merupakan stasiun kereta api tertua di Provinsi Jawa Timur.


Tiba di Sta. Bangil jam /10, saya sudah siap berangkat. Keberangkatannya sama seperti naik kereta antar kota antar provinsi sih. Tapi ini pengalaman pertama start dari Stasiun Bangil. Pilihan nae kereta dari sini gak worth it untuk tujuan yang selama ini saya tuju, tiketnya terlalu mahal soalnya. 



Kereta di dalam itu konfigurasinya 3-2, model kereta lama yang masih digunakan untuk kereta² komuter di daerah.


Jadi kereta ini melintas Stasiun Gubeng, jadi lain waktu jika mau naik kereta ke Gubeng, bisa milih naik kereta komuter ini supaya gak pakai kendaraan pribadi, jauh lebih efisien. 

Kereta ini tiba sesuai jadwal berangkat dan tiba, sangat ontime sekali. Tiba di stasiun akhir ini, akses untuk naik ojek online juga mudah sih. Ya saya memang gak langsung naik dari dekat stasiun tapi jalan dulu ke seberang ke SPBU. Karena saya gak tahu arah kalau ke Turi kemana, padahal seharusnya gak perlu nyebrang ke SPBU, cukup tunggu ojol di depan stasiun saja. Jarak ke Turi juga relatif dekat koq. 

Naik ojol kebetulan promo itu cuma bayar Rp 3.500,- by GO-JEK. Ini sangat murah meriah sih. Tapi bayarnya pakai GO-PAY ya, bukan cash. 

Jadi total biaya yang diperlukan untuk menuju Ps. Turi dari Pandaan:
🪙 Parkir masuk Sta. Bangil Rp 3.000,-
🪙 Tiket kereta Rp 6.000,-
🪙 Gojek ke Sta. Psr. Turi Rp 3.500,-
Total yang harus dibayar Rp12.500- dan ini fixed lebih irit dari biasanya dan ini bisa direkomendasikan jika jadwal sesuai dan memungkinkan. 

Segitu saja catatan pengalaman saya, yang bisa saya bagikan ketika naik komuter Supas dari Bangil menuju Surabaya Kota. Meski terkesan dekat tetapi perjalanan ke sana sekitar sejam lebih lho. 

Sampai jumpa di catatan perjalanan lainnya, dengan rute lainnya. -cpr

#onedayonepost
#jalanjalan
#firstimpression
#stasiunbangil
#stasiunsurabayakota
#komutersupas

Bermalam di Stasiun Surabaya Pasar Turi

June 19, 2025 0 Comments
Bermalam di camp ground sudah biasa, jarang² kali ini saya bermalam di stasiun. Dulu masa² seperti ini seinget saya waktu masih jaman kuliah. Kini merasakan lagi masa itu seperti nostalgia. 

Tadi dari Pandaan saya kan naik kereta komuter Supas, turun di Stasiun Surabaya Kota, kemudian lanjut dengan ojek dan tibalah di sini. 

Kereta saya baru ada besok pagi jadwalnya. Demi tidak merepotkan orang lain, saya memilih cara ini, saya bermalam di stasiun, pagi hari kereta saya jam 6 pagi saya sudah standby di stasiun. 

Urusan tidur bagaimana? 

Selama ini saya sudah terbiasa melatih tidur sambil duduk, itu rasanya hal biasa. Bedanya ini kursi yang saya gunakan untuk bersandar tak senyaman kursi kerja di kantor, jadi pasti ada bedanya. 

Suasana stasiun malam ini seperti yang bisa dilihat didokumentasi yang saya ambil via Redmi Tab. Maklum Redmi Note 10 5G saya kan rusak kamera belakangnya. 



Betapa lelahnya tidur di kursi tunggu ini, karena memang kursi ini didesign hanya untuk menunggu. Saya bisa tertidur memang di kursi ini dengan posisi duduk, tetapi entah ada sesuatu yang tidak buat saya nyaman, dugaan saya posisi kursinya. Mungkin jika saya dapat spot di pojokan, tenang tidak terganggu orang lewat itu lebih baik. 

Semalaman di stasiun saya banyak melihat aktivitas orang malam hari di sini. Ternyata banyak juga penumpang yang memang sengaja menunggu kereta di sini. 


Cuma karena sudah tidak dapat spot kursi, akhirnya mereka ngemper di teras stasiun, ada yang tidur terlentang beralaskan bantal tas mereka, ada yang gelar tiker juga, meski hanya 1-2 saja yang begitu sih di pelataran stasiun yang luas ini. 

Namun buruknya, karena minim pengawasan pada malam hari, banyak dari calon penumpang ini merokok seenaknya di area yang bukan seharusnya. Melihat tingkah mereka ini rasanya kesal dan gemas ingin menegur atau minimal memberi pelajaran.

Menjelang pagi, selepas jam 5an, barulah mereka menyingkir dan mulai masuk ke ruang tunggu peron. 

Oh ya, jadi ketika malam hari ruang tunggu di stasiun itu ditutup, karena dianggap tidak ada jadwal keberangkatan dari stasiun ini, sehingga calon penumpang diminta menunggu di kursi ruang tunggu pelataran stasiun, jumlahnya memang gak banyak. Baru mendekati jam 5 itu barulah ruang tunggu peron dibuka, calon² penumpang yang menunggu sejak malam berpindah ke sana, ditambah calon penumpang yang baru datang menuju stasiun. 

Saya juga lanjut ke arah peron karena kereta saya juga tiba. Suasana pagi ini begitu ramainya, karena ada dua keberangkatan plus keberangkatan kereta lokal. 



Itulah kira catatan yang bisa saya bagikan ketika saya menunggu kereta dengan bermalam di stasiun. Pengalaman terbaru diusia yang gak lagi mudah, hampir paruh baya. 

Segitu saja share² nya, sampai jumpa lagi di bahasan lainnya, entah bahas apa saja yang hubungannya soal travelling atau jalan². -cpr

#onedayonepost
#jalanjalan
#umum

Sunday, August 4, 2024

Third Camp #3: Bernah de Vallei

August 04, 2024 0 Comments
Akhirnya terealisasi juga ngecamp bersama anak kos dan alumni Princes Koss. Setelah direncanakan sebulan, bisa terealisasi juga. Sulit nya menggabungkan acara beberapa orang, karena masing² ada saja acaranya, sehingga  menyamakan jadwal itu yang susah.

Tanggal 3-4 Agustus 2024, kita pilih untuk merealisasikan wacana ngecamp bersama. Tadinya rencana ke pantai, tapi karena gak memungkinkan ada personel yang tengah hamil, maka kita arahkan ke camp ground saja.

Ilustrasi, gambar diambil dari Google

Camp ground yang dipilih adalah Bernah de Vallei, di daerah Mojokerto. Lebih tepatnya bisa kalian cari di Google atau GMaps, langsung kalian akan dibantu menuju lokasi.


Pada camp kali ini total personel ada 8 orang, 6 cowo dan 2 cewe: 2 pasutri dan 4 bujangan. Tenda sewa di sana 1 dan 2 tenda bawa sendiri, aset saya.

Start berangkat sekitar jam 16:08, dan tiba di lokasi sekitar pukul 17:00. Sampai di lokasi ternyata sudah cukup ramai pengunjung, rata² sih family camp dan komunitas.

Blok yang kami pilih adalah Blok B, lokasinya agak ke atas sedikit melintas sungai kecil, hmm mengingatkan momen ketika ngecamp di Bedengan Camping Ground.

View Blok C dilihat dari atas, area Blok B (kamar mandi). Saat kami ke sana, di sana (Blok C) sedang under construction.

Perlu diketahui, di sini ada tiga blok, yaitu A, B dan C. Blok A dan B ada di lokasi lebih di atas, sedangkan Blok C ada di lembah dekat dengan air terjun. Blok A itu adalah blok awal yang dilewati, kemudian melintas sungai kecil baru ketemu Blok B. Sedangkan Blok C itu ke arah kanan saat ketemu sungai kecil dan turun ke bawah. Dimana kendaraan terpakir di atas, sedangkan Blok A dan B kendaraan bisa parkir dekat dengan camp ground.


Sampai di lokasi, parkir langsung pilih posisi pendirian tenda. Untungnya sumber listrik tidak jauh, kabel yang kita bawa cukup untuk itu.

Kemudian posisi yang mojok dekat dengan satu pohon yang kita jadikan pilar buat pasang flysheet membantu sekali. Tenda yang kami sewa sudah berdiri dan bisa siap digunakan langsung.

Sekiar jam 18:00 tenda sudah berdiri dan semua perabotan sudah on position, ibu² muda pun langsung mempersiapkan perbekalan. Sedangkan yang lainnya ada yang sholat, ambil air dan beresin peralatan untuk memasak, dan saya sendiri karena lapar ya buat mie instan, sembari nyantai menikmati malam.


Teman² yang lain ada yang ganjal erut  sambil bakar ubi, dan lainnya mempersiapkan untuk marinasi lauk makan malam.

Acara kebersamaannya ya masak bareng, makan bareng dan  main uno bareng, sampai lewat tengah malam.


Pagi hari saya sendiri bangun jam 5 pagi, tapi lanjut merem lagi dan baru bangun jam /7 pagi, sebenarnya masih ingin lanjut tidur.

Setelah bangun saya lanjut siap² untuk mandi pagi, sekalian pup jadi mandi sekalian saja. Di sini fasilitas kamar mandinya cukup baik, bersih dan gak ada serangganya, bagus lah. Disetiap blok tersedia kamar mandi yang cukup.

View kamar mandi dan toilet di Blok B.

Catatan di sini, kalau pas lagi peak pemakaian, air di kamar mandi Blok B ini airnya kurang deres, itu kalau gak salah jam 7an, airnya seret, sehingga saya sampai harus turun ke kamar mandi Blok A untuk dapatkan air bersih mengisikan ke ember lipat dan water storage.


Suasana pagi di camp ground  syahdu, sejuk tidak terlalu terik, juga tidak terlalu ramai, terdengar suara musik dari masing² kelompok komunitas yang ngecamp, tapi tidak saling mengganggu.



Nampak juga beberapa yang sudah mulai berkemas untuk pulang. Barisan pohon pinus yang ada membuat suasana pagi tetap sejuk walau matahari mulai terbit.

Setelah semua anggota bangun, kami bersiap untuk memasak sarapan pagi. Aktivitas pagi, ambil air, cuci perabotan, ambil daun pisang, dan ngoncek bumbu.




Aktivitas sarapan pagi pun berjalan cukup cepat, karena tersedia beberapa kompor untuk memasak dan alat masak yang banyak, jadinya cepat selesai.


Sekitar jam 08:26 kita semua sudah bersiap makan, makan bersama diatas daun pisang segar yang dipetik dari alam.

Selepas makan, acaranya bebas, ada yang lanjut tidur, saya dan beberapa teman² bujangan coba jalan² ke camp ground Blok C, katanya di sana ada mini waterfall.

Selengkapnya bisa dilihat divideo Channel Youtube yang saya bagikan dibawah ini.


Di mini waterfall ada tempat duduk dari beton, kita duduk² di sana menikmati suasana, sambil sedikit sebat.


Di camp ground Blok C ini agak gimana gitu suasananya, emang sepi karena kebetulan sedang ada perbaikan.

Setelah puas di mini waterfall ini kami kembali ke basecamp dan persiapan untuk pulang. Setelah menghabiskan jajan sejenak sambil  sebat. Baru memulai meringkesi barang².

Dimulai dari meringkesi printilan kecil alat² masak dan kawan² nya, lalu lanjut tenda besar merah (Tendaki B4), lanjut ke tenda piknik dan terus terpal dan flysheet. Sekitar jam  10:45 kita sudah selesai beres².





Behind the scene, foto dibuang sayang. Modal timer, ngitungnya gak ngepas jadilah candid seperti ini.

Lanjut foto sebelum pulang dan akhirnya kita perjalanan pulang kembali ke basecamp awal. Jam 11:09  meninggalkan lokasi camp dan tiba di  basecamp awal 12:13. Dari sana kami berpencar ke tempat masing².

Begitulah kira² catatan ngecamp #3 ditahun 2024 ini. Soal kesimpulannya ngecamp di sini akan saya jelaskan di bawah ini. Tapi saya tutup dulu untuk catatannya. Jadi nanti selesai saya sampaikan kesimpulannya, langsung saya akhiri.


Kesimpulan secara umum menurut pendapat saya, untuk camp ground ini, yang pertama saya bahas adalah soal kelebihannya, sbb.:
+ Di sini sinyal internet aman, jadi gak khawatir ilang sinyal, setidaknya di Blok B.
+ Minim serangga pengganggu, entah semut, laba², tawon, lebah, bahkan lalat ketika masak itu tidak banyak, ada lalat tapi masih ditahap wajar dan normal, serta tidak mengganggu sekali, karena dibeberapa tempat saya sering jumpai lalat² yang gak terdidik, di sini karena jumlahnya terkendali jadi masih tahap sopan.
+ Kamar mandi bersih, tidak ada serangga laba² atau sejenisnya yang mengganggu terutama bagi yang fobia serangga tersebut.
+ Air bersih.
+ Listrik ada, colokan tidak jauh, asal sedia kabel olor minimal 5 meter untuk ambil dari sumber listrik itu cukup.
+ Pencahayaan aman, jadi gak usah khawatir gelap²an, karena lampu di sekitar camp ground tersedia dengan baik.
+ Area parking cukup akomodatif, untuk Blok B terutama, dan Blok A, kalau Blok C harus effort untuk berjalan membawa barang² perkakas camp.
+ Dekat dengan wahana anak, cocok buat acara keluarga bersama si kecil. Serunya sih ngecamp 2 hari, sejak Jumat   sore berangkat, Minggu pagi baru pulang. Tapi itungan ngecampnya ada yang kurang proposional menurut saya, akan saya bahas di kekurangan dibawah.

Kekurangan yang menurut saya ya, minor sih ini, sbb.:
+ Udaranya kurang dingin gregetnya, masih seperti udara dingin ya biasa lah, kalau ngecamp kan yang dicari dingin dan sejuknya. Walau di sini sejuk, tapi buat saya kurang dingin, soalnya pake selimut biasa aja cukup.
+ Airnya kurang deres kalau pas lagi on peak pemakaian, tapi kalau lagi sepi sih cukup aman lah.
+ Jam check out yang gak realistis, masa iya check in jam 17:00, check outnya jam 10:00. Biasanya dimana-mana itu ya 24 jam, lagian gak mungkin juga overtime berhari-hari, kalau pun iya pasti dihitung 2 hari atau lebih. Buat saya sih ini minus banget, walaupun kemarin kami juga gak sampai lebih2  amat, bahkan sampai sore. Tapi kalau orang ngecamp itu jam 10 ke atas adalah waktu  buat leye² menikmati alam, ini malah sudah disuruh check out. Gak asyik sih kalau ini.

Untuk tiket masuknya per orang Rp 15.000,- dan untuk parkir mobil itu Rp  15.000,- /mobil. Untuk sewa tenda capasitas 4 orang @ Rp 60.000,-. Hanya itu sih pengeluaran waktu di sana.

Akankah kembali ke sini? Hmm, mungkin suatu saat nanti kalau sudah bekerluarga, camp ground ini pilihan buat familiy camp. Sampai jumpa di trip camp lainnya, akankah bisa mencapai 10 trip disisa tahun 2024 ini, hmm rasanya gak mungkin 🤭, #pesimisman but it'e realistis man. -THN

#onedayonepost
#camping
#familycamp
#bernahdevallei
#pacetmojokerto
#princesskos
#alumnikos
#eksquantumcamp
#firstimpression