Wednesday, February 25, 2026

Trip Nge-Grab Tanpa Pikir Panjang (X) Jangan Ditiru

February 25, 2026 0 Comments
Saya mau sharing pengalaman nge-Grab yang tidak perlu dicontoh, karena menerima order tanpa perhitungan matang. Kalau dari pov Grab sebagai penyedia aplikasi, dari customer pasti positif dan mereka senang. Tapi dari sisi pov mitra dan keluarga mitra itungannya rugi. 

Inti pelajarannya saya sampaikan di awal, ketika menerima orderan dan memutuskan orderan akan diambil atau tidak, perhitungkan banyak hal, terutama orderan² jauh, meski nominalnya besar tapi perhitungkan itu. Masuk tidak dari sisi biaya dan keluargamu bagaimana setuju apa tidak. Karena kalau tidak yang ada itu hanya akan merepotkan mu saja dan bikin tidak konsentrasi di jalan. Ini hanya cocok untuk mitra yang berstatus jomblo tak punya keluarga dan hidup hanya untuk diri sendiri, melayani itu adalah 'jalan ninja' terbaik dalam hidup. Tapi selain dari itu lebih baik pertimbangkan matang².


Jadi ditanggal 23-03-2026 yang lalu hari itu saya sebenarnya sudah ada janji jemput keluarga jam 20:00 di Stasiun Pasar Turi, Surabaya. 

Hari itu memang saya libur, jadi sebenarnya saya bisa ambil order untuk nambah pendapatan sampingan. Namun pagi hingga siang itu sepi sekali orderan di Pandaan. 

Rencana saya ini: dari pagi saya sudah ke Surabaya, narik di sana sambil menunggu jemputan jam 8 malam. Tapi ternyata orang dekat menyarankan lain, suruh saya stay di Pandaan dan sore baru ke Surabaya. Padahal kalau di Surabaya saya yakin bisa dapat lebih banyak dengan trip di dalam kota. Tapi daripada ribut, diiyakan saja waktu itu. Alhasil saya narik di Pandaan. 

Ketika sore saya coba narik dan dapatlah itu trip pertama ke Kota Pasuruan. Rencananya sore itu menunjukan pukul 16:00, saya otw arah Surabaya dengan setting di aplikasi tujuan Surabaya. Eh belum saya lakukan, orderan masuk lah. Nominal besar dan tanpa pikir panjang saya ambil, pikir ya gak terlalu jauh. 

Jadi kaya begini, sebelumnya tujuannya tertulis Malang, tapi ternyata Pasuruan. Nah ini tertulis Blitar, saya pikir ya deket² Malang lah, masih oke. Tapi ternyata ini bener² Blitar, kotamadya nya pula, estimasi waktu 5 jam perjalanan. Salahnya itu semua baru saya perhitungan setelah saya mengiyakan orderan dan memutuskan setuju membawa penumpang. Saya hanya takut kalau dicancel performa saya jadi buruk dan merusak orderan otomatis yang selama ini saya terima, alhasil saya memilih ambil. 

Ternyata ini membawa masalah, keluarga ngamuk, yang satu gak terima atas kebodohan saya itu, satu lagi kecewa karena sudah janji jemput ontime akhirnya terlambat hingga beberapa jam. 

Alhasil saya membawa penumpang dengan tidak tenang, kepala dipenuhi beban pikiran. Wes campur aduk gak karuan. Alhasil ini jadi perjalanan antar kota kabupaten yang melelahkan secara fisik dan mental. 

Perjalanan Menuju Kota Blitar
Perjalanan menuju Kota Blitar ini saya lewat jalur tol mulai dari GT Purwodadi keluar GT Sawojajar. Selanjutnya dilanjutkan jalur biasa yang sempit dan padat. Tanggal itu adalah tanggal arus balik mudik, jadi ramai sekali. 

Kota Pasuruan - Kabupaten Pasuruan - Kabupaten Malang - Kota Malang- Kabupaten Malang - Kabupaten Blitar dan tiba di Kota Blitar sesuai tujuan alamat. 

Perjalanan berangkat saya pakai mode berkendara normal, karena saya bawa penumpang. Meski saya gak sabar karena stres keluarga ngamuk², saya tetap berusaha tenang dan sabar dalam berkendara. 

Sempet juga mau laka tapi untung nyaris dan saya masih dilindungi, efek nama baptis asal saya adalah St. Christopher yang katanya sebagai pelindung perjalanan. Mungkin jika saya membawa nama lain ceritanya berbeda. 

Di perjalanan sempet berhenti beberapa kali, pertama itu istirahat makan di daerah Kepanjen (selepas Kepanjen), kemudian isi BBM di arah mau menuju bendungan, lalu istirahat lagi (ke toilet di Indomaret) setelah lepas bendungan. 

Selesai menurunkan penumpang rasanya legah, karena saya tinggal mikirkan bagaimana jalur tercepat menuju Surabaya sesegera mungkin, kalau bisa terbang ya terbang deh. 

Diwaktu yang singkat itu, saya coba kalkulasi dengan GMaps, rute tercepat mana. Karena melihat jalur arah balik yang tadi saya lewati itu macetnya ampun²an, dibeberapa titik macet gila, gak ngebayangin saya balik lagi di jalur itu dan ketahan macet, bisa gila saya. 

Akhirnya diputuskan saya memilih jalur Blitar - Kediri - Jombang - Mojokerto - Surabaya. Jalur yang estimasi waktu tempuhnya sekitar 4,5 jam ketika itu. Itu tidak tahu macet atau tidak, karena tidak tergambar dengan pasti dari GMaps. 


Perjalanan Blitar - Surabaya
Settingan GMaps sudah sesuai, saya coba menuju Surabaya dengan arah Maps yang sudah disetting itu. Awal saya setting tanpa tol, karena mengingat saldo e-money saya terbatas hanya 50K saja, jadi saya harus sesuaikan dengan rute tercepat dan biaya yang efisien. 

Saya tahu bahwa jarak ini tidak bisa dipangkas, yang bisa dipangkas itu cuma waktu tempuhnya, cara pangkasnya cuma dengan menaikan kecepatan kendaraan yang saya naiki ini. 

Logika sederhana yang saya pakai, jika jaraknya itu 70 km, butuh waktu 1 jam jika saya menggunakan kecepatan konstan 70 km/jam, saya bisa lebih cepat lagi dari satu jam jika saya tingkatkan kecepatan saya diatas 70 km/jam.

Akhrinya saya memacu SiDat dengan gila²an, kebetulan jalan sepi. Jadi jalan daerah yang sempit yang harusnya di sana maksimal kecepatan di 40 km/jam saya lajukan kendaraan di 60-70 km/jam. Di jalan yang agak lebar bisa 1-2 mobil bejejer saya pacu 90-100 km/jam. Sisanya pas sudah sampai Surabaya saya ada akses tol, saya pacu > 100 km/jam.

Alhasil itu saya bisa pangkas waktu tempuh yang cukup lumayan, hingga sejam sendiri, sekitar 3,5 jam bisa saya capai. Bener² gila sih, pokonya saya gak mau ada di belakang kendaraan lain, karena mereka itu lambat. 

Saya beruntung jalur yang saya pilih ini lengang banget, sempet diguyur hujan juga, cerah, hujan lagi. Selain itu beruntung lagi ban gak bocor, itu yang saya khawatirkan selama perjalanan. 

Jadi selama perjalanan saya blas gak mengamati saya sudah lewat mana, ada apa di kiri kanan, sudah pokoknya saya melaju hanya lihat kilometer yang semakin  berkurang karena menuju lokasi tujuan. 

Saya hanya lihat atau tertarik pada penanda arah yang menunjukan ke arah Gunung Kelud, nah di situ saya mikir wah gila ya perjalanan saya ini, saya pernah mau menuju ke arah gunung itu, katanya sih bagus view nya. Entah kapan saya bisa ke sana, kayanya gak akan mungkin deh. 

Saya cukup tenang ketika melintas di daerah Mojokerto, di mana saya sering lewat jalur itu, kemudian arah Gresik, hingga akhirnya saya menemukan jalur masuk tol ke arah Surabaya. Sudah makin tenang langsung makin gas poll hingga akhirnya tiba di stasiun. 


Setelah semuanya selesai, saya lihat timeline perjalanan saya di GMaps, ternyata saya melakukan perjanalanan memutar, dan itu gila sih. Total kilometer yang ditempuh hari itu, dalam satu hari habiskan 383 km. 

Ini perjalanan singkat dan melelahkan, gila saya bener² kurang tidur, karena saya istirahat hanya sebentar, pagi jam 4 sudah keluar rumah lagi, walau akhirnya rencana berikutnya kacau berantakan. 

Itu dia jurnal yang bisa saya catat, sebagai pengenang dan pengingat yang baik. Pelajaran yang sangat berharga, "jangan jadi hamba uang", selalu berpikir sebelum melakukan, karena saat ini saya tak lagi sendiri, banyak kepentingan ada pada diri saya. 

Kalau seperti ini terkadang berpikir lebih baik hidup sendiri, karena semua keputusan mau salah atau benar, semua ada ditangan mu sendiri, bukan ditangan orang lain. 

Tapi sudahlah, hidup telah dituliskan begini, lakukan saja yang terbaik, semua pasti ada hikmahnya. -cpr

#onedayonepost
#jurnal
#jalanjalan
#umum
#blitar

Sunday, February 15, 2026

Trip Trans Jawa Timur Koridor K1 : Batu - Kayutangan

February 15, 2026 0 Comments
Menikmati aktivitas awal pekan diweek pertengahan Februari 2026 ini saya dan Dewi sedang berada di Kota Batu. Kami ingin mencoba moda transportasi umum yang diprakarsai Pemprov, Trans Jatim yang dioperasikan menghubungkan Kota Batu dan Kota Malang.
 

Transportasi umum ini nampaknya disambut positif masyarakat Kota Batu dan Kota Malang. Program yang baik ini mendukung pariwisata di dua tempat berbeda ini. Serta juga mendukung pergerakan ekonomi warga dari satu tempat ke tempat lain. Secara tidak langsung juga mengajak warga untuk menggunakan moda transportasi umum, guna mengurangi kepadatan di ruas penghubung dua tempat ini dari kendaraan warga lokal. 

Halte yang kami naiki waktu awal berangkat

Siang ini saya pergi berempat, start dari halte daerah RS Baptis, Batu tujuan ke kawasan Kayutangan Heritage, Kota Malang. 

Di halte ini ada fasilitas colokan listrik buat charger, sederhana tapi membantu sekali

Arah pulangnya kami naik dari halte seberang MOG dan turun di halte sebelum RS Baptis, seberang Indomaret kalau gak salah, daerah Tlekung, Batu. 

Bus Trans Jawa Timur yang yang naiki ini adalah bus koridor K1. Bus koridor ini dinamai Gajayana. Mulai beroparsi November 2025 yang lalu. Rute awalnya adalah Terminal Hamid Rusdi (Malang) dan Terminal Batu. Jam operasional mulai pukul 04:00 sampai dengan pukul 22:00.

Jarak dari Malang - Batu sekitar 42 km dan arah Batu - Malang sekitar 39,35 km. Untuk tarifnya itu Rp 5.000,- untuk orang dewasa dan umum, ada tarif subsidi untuk mahasiswa. Anak dengan tinggi tertentu juga dikenai tarif normal. 


Sewaktu berangkat itu bus relatif ramai, banyak penumpang berdiri di bagian tengah bus, ya walau tidak berdesak-desakan, tapi pagi itu cukup ramai sekali sih. 

Sensasi naik bus ini ketika berdiri adalah sensasi goyangannya, karena ketika ada di wilayah Batu, Sengkaling, Tlekung itu jalurnya belak-belok, jadi ada sensasi bergoyang kanan-kiri, seru sih ini. 

Saya jadi ingat momen ketika saya hidup di Jakarta, naik kendaraan umum seperti ini jadi makanan sehari-hari. Saya menikmati naik transportasi ini, walaupun harus berdiri sejak awal sampai akhir perhentian. 


Sampai di Kayutangan, halte tidak jauh dari Gereja Katolik yang di simpangan Kayutangan, saya pernah ke sana, tapi lupa nama parokinya. 

Ngemil jadah bakar, sambil duduk di kursi² yang tersedia di trotoar

Sampai sana jajan cilok dulu di halte. Lalu kami berjalan ke arah perempatan yang ada Lafayette, kemudian lanjut terus ke swalayan Lai-lai untuk belanja kue basah dan bumbu masak tertentu.

Ini pas mau menuju swalayan Lai-lai

Belanjaan dari Lai-lai, gak banyak tapi perlu


Dari situ berjalan lagi ke arah MOG, kita muter waktu itu, sempet berhenti di sebuah masjid yayasan Khadijah kalau gak salah. Kebetulan ada tukang jualan bakso malang pikulan, kami beli dan makan di pinggir jalan, sembari menunggu ada yang sembahyang. 


Total perjalanan jalan kaki ini habiskan jarak 2 km sepertinya ya, dari turun halte sampai naik halte lagi, dengan rute memutar. 

Suasana Kayutangan Heritage ya ramai sih, banyak orang berwisata di sana, entah memang mereka orang Malang atau luar Malang tidak bisa dipastikan. Seru jika pas ke sini lagi ada momen² acara tertentu jadi ada yang dilihat. 

Ini pov di dalam bus, enak lho naik bus begini terus tidur, bus nya nyaman, AC nya dingin pula

Ini saya foto dari kursi belakang, yang agak ke bawah, baru awal masuk bus, kursi yang depan masih keisi, jadi duduk di sini dulu

Pas naik bus K1 arah kembali ke Batu kebetulan kita naik bus yang sama sewaktu berangkat tadi, kami mengenali dari mas petugasnya. Kita pulang itu sepi, ya setidaknya kita berempat bisa dapat tempat duduk, nyaman duduk sampai perhentian terakhir di halte sebelum RS Baptis. 

Dari situ kami lanjut jalan kaki ke arah rumah, gak jauh, ya lumayan untuk berolahraga memperbanyak langkah dan kilometer jarak. 

Itulah kira² jurnal aktivitas jalan² di awal pekan ini, ya pekan kejepit karena Senin besok kejepit libur imlek, buat yang punya libur ya enak bisa menikmatinya, tapi buat pekerja 'kasar' ya tetap masuk kerja, kalau gak dapat uang dari mana buat berlibur apalagi sedang mempersiapkan suatu acara begini. #semangat

Sampai jumpa dicatatan jalan² lainnya lagi. Segitu saja yang ingin saya rekam di sini. -cpt

#onedayonepost
#firstimpression
#jalanjalan
#jurnal
#transjatim
#gajayana

Sunday, February 8, 2026

Camp Ground Tersembunyi, Back on Kedai Lali Jiwo

February 08, 2026 0 Comments
Akhir pekan ini saya dan pasangan saya beruntung bisa berakhir pekan bersama, sepulang gereja mengawali pekan, kami pergi ke tempat dengan nuansa alam. 

Tujuannya itu ke Kedai Lali Jiwo, lokasinya ternyata itu di belakang Hotel Surya, Prigen, Pasuruan, Jawa Timur. Ternyata jalan ke arah tempat ini pernah saya kunjungi beberapa tahun silam, ketika saya mencari sebuah camping ground dekat dengan wisata air terjun Kakek Bodo. Waktu itu saya menemukan arah ke sebuah kafe, dan saya berpikir wah salah jalan sepertinya. 

Ternyata, camping ground yang saya maksudkan itu ada di belakang dari Kedai Lali Jiwo ini. Saya baru tahu setelah hari ini saya coba visit ke camp ground yang dimaksud itu. 

Sebelumnya memang ya saya mampir dulu ke kedai ini, mengisi perut untuk makan siang. Saya tidak akan bahas detail apa saja di kedai ini, entah makanannya dan reviewnya, karena memang gak fokus ke sana. Ini sekedar pengantar saja sih untuk bahas camp ground yang saya maksud. 

Sedikit view yang bisa saya bagikan ketika saya ke Kedai Lali Jiwo ini:

Kalau liat watermark foto ini, lokasinya berada ketinggian 927,5 mdpl

Ini view dari arah parkiran, yang tangga ke arah kedai, yang kiri itu jalanan gragal ke arah camp ground, agak ngetracking dikit ya, batu makadam

Ditengah kedai ada gazebo buat live music

Tempat duduk kedai ini, beratapkan langit, ada juga yang beratap model lesehan gazebo hanya gak banyak slotnya

Ini view dari atas, arah kedai ke arah parkiran mobil

Jadi lokasi camp ground yang mau saya bahas ini memang tersembunyi. Berada di ketinggian sekitar 900 mdpl, lebih tinggi daripada camp ground langganan saya di Sempu Sunset Hills yang ada diangka 800 mdpl. 

Suasana di camp ground ini seperti ada di dalam hutan, ya hutan penduduk sih, bukan hutan kaya pos di pendakian. Hmm, mungkin mirip seperti camp ground yang pernah saya datangi. Mungkin saya samakan area camp ini dengan Camp Ground Ledok Ombo. 


Untuk pepohonannya cukup lebat sih, udaranya juga lumayan sejuk. Untuk sinyal dijamin tidak tersedia untuk Indosat. 

Untuk listrik juga sepertinya tidak tersedia, untuk air bersih sepertinya aman, untuk kamar mandi tadi saya tak melihat ada, walaupun di bawah toilet kedai ada. 

Pas saya ke sana, saya lihat ada beberapa yang ngecamp di sana, tidak ramai hanya yang tahu² saja ke sini yang ngecamp di sini. 

Oh ya saya mau bahas juga, untuk mengakses ke tempat ini baik Kedai Lali Jiwo dan camp ground ini medannya cukup terjal sih. Jika dibandingkan ke Sempu Sunset Hills camp ground, jalannya lebih terjal ke sini, kalau kondisi hujan atau jalan basah pasti ada resiko buat slip ban, apalagi kalau kondisi hujan deras naik ke atas, wah harus full hati² deh. 

Karena jalurnya tertutup rindangnya pepohonan memungkinkan tumbuhnya lumut kalau lembab kan dan itu bikin handicap tersendiri, jalanan jadi licin kan. 

Ini sih opini saya melihat jalurnya tadi pertama kali ke sini. Karena dulu sewaktu saya mencari area camp ini, ketika sampai di dekat parkiran motor Hotel Surya, saya putar balik, ternyata arah yang saya tuju itu harusnya masuk gerbang dan naik lagi. Dari situ masih ada beberapa ratus meter menuju area parkiran Kedai Lali Jiwo dan parkiran camp ground. 

Untuk dokumentasi area camp groundnya bisa saya bagikan di bawah ini:

Ada beberapa area camp atau blok, ini yang paling dekat dengan kedai, jadi dibawah area ini itu bisa ngintip sedikit ke arah kedai

Itu dia view beberapa yang lagi camp, di sisi kiri jalur naik ke arah air terjun itu ada warung yang jaga area camp ground ini

Dari lokasi ini ke atas lagi bisa nanti ke arah air terjun, itu sekitar 2 kilometer lagi, dengan jalur setapak gitu. 

Sedikit videonya saya sajikan sedikit di bawah ini:


Oh ya untuk biaya tiket camp di sini saya tidak sempet tanya tadi. Mungkin pekan depan atau ada waktu kosong saya akan ke sini mencoba tracking ke area air terjun. Mungkin bisa saya tanyakan saat itu. 

Menurut saya sih area camp ini lebih cocok buat acara camping sekolahan (SMP - SMA), kalau anak kuliahan misalnya makrab masih okelah, tapi mungkin masih ada pilihan lain. 

Karena memang di sini tidak ada view yang bisa diamati. Kalau usia² seperti saya sepertinya memilih area camp ground itu selain ngecamp juga harus ada yang diamati. Fasilitas listrik dan internet minimal ada lah, tidak black out banget lah. 


Mungkin sementara itu yang bisa saya sharing kali ini. Kalau nanti saya main ke sana lagi akan saya bagikan ceritanya. 

Ini opini saya first time ke sini, bisa saja berubah kalau sudah mengenal, maklum kan baru pertama kali dan pas ke sini juga kostumnya formal jadi gak bisa eksplor. 

Sampai ketemu lagi dipostingan serupa dilain kesempatan, segini saja cerita diawal pekan bulan Februari 2026 ini. Cuaca saat ini masih berangin dan hujan masih turun, bahkan ketika saya mau meninggalkan lokasi hujan gerimis datang. Jadi kalau mau aktivitas outdoor pastikan periperalnya mendukung supaya tetap nyaman di dalam tenda. Happy healing. -cpr

#onedayonepost
#healing
#kedailalijiwo
#campgroud
#camping
#jalanjalan

Friday, January 16, 2026

Dewi's Trip Without Me : Nyekar Before Married

January 16, 2026 0 Comments
Setelah direncanakan jauh² hari ditahun lalu (2025) akhirnya terealisasi juga hari ini, trip pertama untuk nyekar ke orang tua yang sudah meninggal sebelum kami menikah. Seharusnya ditrip ini saya ikut serta, tapi karena kendala dibiaya, akhirnya diwakili oleh Dewi. 

Sebenarnya pilihan ini juga dapat 'cibiran' dari keluarga dekat saya, "lho koq cuma sendiri, kenapa kamu gak ikut, harusnya kan ikut karena tujuannya kan 'mengenalkan' sebagai calon mantu".

Ilustrasi perjalanan trip kali ini, gambar disiapkan oleh chatgpt

Memang sih seharusnya begitu, tetapi agak aneh juga 'cibiran' ini muncul dari keluarga dekat saya yang seharusnya memahami situasinya, dimana butuh dana yang gak sedikit, sedangkan untuk pernikahan ini saya sendiri terseok-seok mempersiapkannya. Tapi sangat disayangkan orang terdekat yang harusnya memahami bukannya berkomentar positif tetapi yang muncul hanya negatif saja. Tapi sudahlah, saya anggap angin lalu, meski begitu saya mencoba menyimpannya di sini. 

Rencana trip goes to Bandung ini dimulai 16 - 19 Januari 2026. Berangkat dari Malang dan nanti tiba kembali di Surabaya. Iya karena stasiun awalnya berangkat dari Malang dan nanti kembali stasiun turunnya di Surabaya, baru kembali ke Pandaan. Untuk berangkat dan pulang kembali ke Pandaan nanti jadi tanggung jawab saya menjemputnya. 

Rombongan yang berangkat ini ada 2 tim: #1 Dewi, Dessy dan Aseh. #2 D'ton, T'eik dan dua orang temannya. Terkait kepulangannya nanti mereka akan terpisah, dimana tim #1 turun Surabaya dan tim #2 turun Malang. 

Untuk berangkat ini menggunakan Malabar, keberangkatan pukul 05:25 dari Stasiun Malang tujuan Stasiun Bandung. Mereka berangkat dengan kereta yang sama. 

Tidak ada catatan yang bisa saya bagikan di sini kecuali dokumentasi saja, karena itu pun dokumentasi yang saya peroleh ketika mengantar dan kiriman dari Dewi. Berikut ini beberapa dokumentasi yang saya kumpulkan. Biarlah keterangan foto saja yang menceritakannya. 

Ada insiden kecil pas troli naik ke eskalator, dimana trolinya berputar dan barang² di atas troli nyaris terjungkal. Troli ini dibawa T'eik, untung saja petugas keamanan sigap menyelamatkan sehingga tidak terjadi insiden lebih lanjut

Ini ketika rombongan setelah melewati check in bording, mau menuju peron di atas, melewati eskalator terlebih dahulu

Ini view Dewi dan Dessy sedang asyik menonton Netflix atau sekedar selfi, entahlah. Suasana di dalam kereta cerah sekali

Ini view suasana di rumah Mas Didik di Cimahi, Kab. Bandung, Jabar

Momen saat nyekar di makam ayah kandung Dewi, Alm. Bp. Sukirno

Foto di depan Gd. Sate Bandung

Dewi on cam, di depan gerbang Gd. Sate Bandung

Dessy, Dewi, Adeh dan adik sambungnya Dewi

Dewi jajan kue cubit keju

Always poin of center, Dew's ❤️‍šŸ”„

Rekapan perjalanan tergambar di kolase di bawah ini, trip yang menyenangkan, lelah tapi happy nampaknya, walaupun harus dipaksa terkendala akibat banjir di Pekalongan, Bandung - Surabaya harus ditempuh 15 jam, padahal naik KA Harinya yang harusnya hanya 7 jam saja. 


Postingan ini hanya ingin merekam momen, sebagai pengingat. Karena setelah trip ini, trip selanjutnya adalah nyekar ke Semarang yaitu keluarga saya dan nanti nyekar ke Batu di keluarganya Dewi. Ditunggu saja update postingan berikutnya. -cpr

#onedayonepost
#jalanjalan
#trip2026
#jurnal

Sunday, January 4, 2026

First Trip 2026: Perjalanan Mudik Tersingkat

January 04, 2026 0 Comments
Akhir pekan pertama diawal tahun ini saya terpaksa harus mudik pulang kampung ke Cirebon karena harus mengambil suatu berkas penting. Alhasil karena waktunya terbatas, jadi milih waktu yang pas ya cuma pekan ini. 

Ilustrasi trip ini disiapkan oleh chatgpt

Jadi rencana perjalanan kali ini, tanggal 03/01 saya berangkat dari SBY ke CRB, berangkat jam 17:45 dan besoknya tanggal 04/01 jam 13:44 sudah harus kembali dari CRB ke SBY lagi. Jadi total hanya 12 jam kurang lebih saya di CRB. 

Ini suasana perjalanan menuju stasiun, kondisi hujan, untung saja perjalanan lancar, sesuai estimasi GMaps. 

Sabtu sore sekitar pukul 15:30 saya start dari Pandaan, tiba di Sta. Ps. Turi sekitar 17:11, langsung check in dan masuk ke area peron, gak lama sekitar jam 17:20 kereta sudah tersedia di jalur #1. Sambil menunggu penumpang lain masuk supaya gak berdesak-desakan jadi saya menunggu di peron. 

Itu dia tanjakan menuju jalur #1 pas dengan gerbong yang akan saya naiki berhenti tepat di plang penunjuk nomor gerbong, lihat saja itu plangnya. 

Ini pas saya baru datang, karena ramai jadi saya cari sela buat duduk di pinggiran taman, karena kursi² pada penuh. Itu barang bawaan saya pas difoto menghalangi view jalur #1.

Suasana stasiun sore ini cukup ramai sih, ruang tunggu tadi rame jadi maka nya saya langsung saja ke arah peron, menunggu di pinggir jalur #1. Sekitar jam 17:30 saya putuskan masuk kereta, karena antrian sudah lengang juga. 

Foto diambil dari pov kursi dimana saya duduk, itu arah belakang kereta, dimana gerbong eksekutif berada di arah ujung dimana saya foto. 

Sayangnya saya pilih kursi #1A dan itu ternyata berjalan mundur, sangat kurang beruntung, tapi gak masalah, saya bukan tipe orang ribet dengan kereta maju mundur, yang penting kereta berangkat mengantar saya sampai tujuan dan on time. Saya bukan tipe orang yang ribet dengan masalah pusing hanya karena kereta berjalan mundur. 
Itu view lokomotif, urutan gerbong, belakang lokomotif itu Premium #1, #2, #3 gerbong yang saya naiki, selanjutnya gerbong makan, setelahnya entah premium atau langsung lanjut eksekutif, yang jelas arah sana itu arah gerbong eksekutif berada.

Itu gerbong #3 yang akan saya naiki, saya foto dulu sebelum saya naiki. Jadi saya nebak, arah nomor #1 dimana, saya lihat di emblem di pintu masuk, arah penomoran di sana tertulis ⏪ 01 20 ⏩. Jadi ya saya langsung menuju pintu sebelah kiri difoto di atas. 

Kereta berangkat on time sesuai jadwal, dan itu bagus. Ternyata di dalam kereta walaupun premium area kaki itu sempit, untuk postur tubuh saya yang panjang kaki ini sempit sih. 


Sesuai situasinya, kereta berjalan mundur, kereta jalan tanda saya harus istirahat. Perut sudah mulai lapar sih, coba ngemil² dulu terus istirahat deh sepertinya. 

Di kereta saya tidur amat pulas, terbangun 2x di sela-sela saat tiba di Stasiun Semarang Tawang saya bangun makan bekel yang dibawain Dewi. Habis makan tidur lagi, bangun² selepas Stasiun Tegal. Tidur ayam, kemudian terjaga sampai Stasiun Cirebon sekitar pukul 00:15 lah. 

Kemudian saya turun, ditemani gerimis ringan, lalu saya berjalan kaki ke arah Jalan Siliwangi, di sana cari ojek online. Gocar kisaran 34K, Maxim Car 25K dan Maxim Bike 13K.

Sampai rumah, ngobrol² sama Papa, sampai jam 2 pagi, /3 pagi saya baru bisa tidur. Terbangun jam 6 pagi, cari barang² yang diperlukan, packing dulu sebagian. Jam 9an saya sudah meluncur keluar cari oleh² pesanan nya mami. Saya ke Jagasatru, terus ke Ayam Bahagia beli ayam kesukaanya papa pesanan Dewi belikan buat papa, terus saya cari bekel buat perjalanan pulang kembali ke SBY. 

Bingung bekel buat di jalan nanti makan apa, akhirnya saya beli nasi lengko aja 8K, kemudian nanti sebelum berangkat coba mampir ke martabak manis Queeen. Tadi coba ke pusatnya di Lawanggada eh masih tutup, bukanya jam 10, coba yang di deket rumah (Perum) ya tutup juga. Nanti aja coba sebelum berangkat mampir, buat ganjal perut di jalan beli itu saja. 

Saya berangkat dari rumah CRB jam 12 siang, karena harus mampir dulu kan beli bekel perjalanan dan memang benar sudah buka, jadi saya beli satu porsi buat bekel. 

Tiba di Stasiun CRB sejam sebelum kereta datang. Jadi lebih tenang dan santai, soalnya kalau gak buru² berangkat takutnya tiba² hujan, soalnya suasana Kota Cirebon sudah mendung,  memang gak gelap² banget mendungnya, tapi daripada tiba² hujan kan repot soalnya bawaan banyak, koper plastik penuh muatan hasil bumi: pisang, ubi, bahan makanan lainnya, pakaian. 

Kereta berangkat on time 13:35 sudah masuk peron dan 13:44 sudah beranjak meninggalkan stasiun. Yups, perjalanan menuju SBY kembali dimulai. Mudah-mudahan semuanya lancar sampai SBY sesuai jadwal. Dan di SBY parkir onlinenya gak bayar mahal².

Ini suasana di dalam kereta Harina saat arah kembali ke SBY, sekitar jam 13:45

Ini view dari sudut Stasiun Cirebon sisi paling kanan dari arah pintu keluar penumpang

Ini view dari peron #1 jalur penumpang yang mau mengarah ke jalur #2 dan #3 tanpa melalui tunnel

Ini view peron jalur #2 ketika ada kereta lain tengah berhenti di stasiun, suasana siang sembari menunggu kedatangan Harina


Penumpang yang naik dari CRB ini lumayan banyak juga sih, yang turun dari BDG ke CRB juga ya lumayan, ya sebanding dengan yang naik. 

Oh ya, btw keberangkatan kali ini saya duduk di kursi nomor #20B, tidak dekat jendela. Kalau pas berangkat kemarin saya mundur, kali ini maju. 

Jadi ada tips nih buat yang mau Harina, supaya duduknya maju atau tidak mundur, dan mudah-mudahan sih urutan keretanya gak berubah ya, karena mempengaruhi maju mundurnya arah kereta saat berjalan nantinya. 

Kereta Harina relasi SBY - BDG, urutan keretanya ketika saya naiki saat ini, urutannya adalah lokomotif lalu gerbong premium #1 - #4, lalu dipisahkan kereta makan/restorasi, lalu baru gerbong eksekutif dibagian belakang. Tetapi ketika nanti relasi sebaliknya, BDG - SBY, urutannya jadi dibalik: lokomotif lalu gerbong eksekutif, lalu kereta makan/restorasi, lalu baru gerbong premium, dimana premium nomor kecil ada dipaling bontot. 

Tips informasi lainnya soal kursi supaya duduknya kita searah dengan arah kereta, maka coba perhatikan hal ini. 

Sewaktu berangkat, saya contohkan gerbong premium #3 saja seperti yang saya naiki kemarin, saya pilih duduk dinomor #1A, nah ini kita berjalan mundur jadinya. Tips tambahan pilihlah nomor kursi #1A atau #1B, 1C atau #1D atau #20ABCD. Nomor kursi yang paling ujung dekat pintu akan dapat kelebihan spot menaruh koper di belakang kursi, ditambah jika pemilihannya tepat bisa sesuai dengan arah laju kereta. 

Sewaktu arah pulang kembali ke SBY pilihlah nomor kursi dengan angka besar seperti #20A atau #20B, atau #20C atau #20D. A dan D itu yang dekat jendela dan B dan C itu yang dekat gang ini memudahkan yang ingin keluar masuk. 

 

Kesimpulan pilih kursi dengan angka besar #20 itu yang arahnya selalu maju ke depan. Berkaca dari pas berangkat, saya pilih nomor #1 eh malah mundur, justru nomor #20 itu arahnya maju ke arah BDG. Pas pulang ke SBY untungnya saya pilih angka besar #20 dan ternyata arahnya maju menuju SBY. 

Padahal saya pikir kalau seharusnya jika posisi tidak berubah, ketika #1 waktu berangkat ke BDG mundur, pas pulang ke arah SBY harusnya #1 itu maju, tapi nyatanya tidak begitu, justru nomor #1 itu baik ke arah BDG dan SBY itu akan selalu tetap mundur. Ini yang terjadi di Premium #3 Harina (siang). 

Sedangkan kursi nomor #20 itu akan selalu maju baik ke arah BDG dan SBY. Maka pilihlah angka besar ketika naik Harina (siang/ pada gerbong Premium #3) 

Itu sih tips yang bisa saya bagikan, buat yang butuh spot tambahan ketika menyimpan koper. Tentunya ada yang suka ada yang tidak, ada yang senang di tengah karena lebih lega, tapi menurut saya sama saja, namanya gerbong premium status ekonomi itu semua sama. Cuma ya biasa orang tua senang di bagian tengah atau yang biasa berangkat berempat memang enak ditengah. 

Nasi lengko yang saya bawa eh malah kena basahan, jadinya saya gak bisa makan karena basah kena air, bener² menyebalkan, mana pas laper. Untung tadi bawa terang bulan Queen, jadi bisa ganjel itu sampai tiba di SBY. 

Perjalanan pulang ini ya saya sempet tidur beberapa kali, terbangun ketika di Stasiun Cepu, saya coba keluar kereta berdiri di peron sambil menikmati udara segar di wilayah Cepu. Selepas ini perjalanan menuju SBY masih 2 jam lagi. 

Suasana peron Stasiun Cepu saat magrib

Saya tiba di SBY sekitar pukul 20:05, ya sesuai dengan jadwal, tidak mbleset. Sampai di stasiun saya langsung menuju Datsun yang saya tinggal lebih dari 24 jam, kita lihat berapa biaya parkirnya? 


Ternyata parkirnya cuma bayar Rp 75.000,- 24 jam lebih, karena masih belum sampai 24 jam kedua jadi tarifnya masih kena hanya tarif pertama, jika nanti lewat harian kedua baru kena tarif kedua Rp 50.000,-


Akhirnya perjalanan trip singkat SBY - CRB PP berakhir, dengan tibanya saya kembali ke Pandaan dengan selamat. Semua barang² bawaan telah berhasil dikeluarkan dari tas koper, syukurlah semua aman. 

Ini jadi jurnal traveling saya diawal tahun 2026. Bagaimana dengan perjalanan berikutnya ditahun ini. Ditunggu saja updatenya diblog ini. Sampai jumpa lagi dipostingan berikutnya. -cpr

#onedayonepost
#trip2026
#jalanjalan
#jurnal
#sbycrb
#crbsby

Saturday, November 15, 2025

Saturday Step #13: Walking on Cloudy

November 15, 2025 0 Comments
Waktu bener berjalan begitu cepatnya, baru kemarin Sabtu eh hari ini sudah Sabtu lagi. Sudah pertengahan bulan saja, waktu di bulan November berlalu begitu cepatnya. 

Seperti biasa saya akan catat aktivitas Saturday step pekan ini, untuk melihat dan sekaligus collect data yang sudah saya kumpulkan beberapa minggu terakhir rutin. 


Aktivitas pekan ini akan saya catat dengan aplikasi Strava, seperti biasa. Pagi ini rekan² yang pekan lalu baru bergabung dengan Strava juga ikut berinteraksi di Strava jadi data aktivitas mereka bisa terekam. 

Hampir sama dengan pekan lalu dimana waktu sejam awal dipotong dengan ceramah yang gak perlu, ya biasa supaya jangan ini, jangan itu, sampai urusan pegang hape saja diributkan, padahal saya pegang hape untuk merekam dan melihat aktivitas olahraga. Kadang emang orang kalau terlalu ya begitu. Sudah kita skip saja, merusak mood memang yang begini. 


Jika melihat dari resume data di atas ada waktu ceramah selamat 9 menit, start jalan itu 08:09. Saya habiskan waktu 1 jam 04 menit, total ya 64 menit, habiskan jarak 6500 meter. 

AI Strava mencatat ini jarak terjauh dari tiga minggu terakhir, ya memang benar sih. Untuk elevasi dianggap tertinggi ini salah sih, soalnya lokasi saya aktivitas jalan ya di situ-situ saja. 

Mengenai pacenya sendiri secara umum sih jauh lebih baik daripada pekan sebelumnya. 


Memang pekan ini sejak awal saya push berjalan cepat, lap #1 saya coba kombinasi dengan lari 'di jalur surga', lumayan beberapa meter saya lari di sana. Sisanya saya teruskan dengan berjalan cepat untuk lap² berikutnya. 

Pace rata² ada diangka 9:52 /km, dengan split tercepat diangka 8:14 /km, ini didukung dengan lari jogging seperti yang saya jelaskan tadi. 

Jika membandingkan statistik rekan saya yang lain yang melakukan putaran 5 lap itu punya pace 8:24 /km. Pace ini setara dengan kombinasi jogging, karena kalau jalan cepat saja akan sulit mendapatkan angka tersebut. Satu putaran  standar itu butuh waktu 4 menit untuk 520 meter. 

Untuk putarannya berapa kali, jika melihat statistik elevasi, terdapat 12x puncak elevasi yang menandakan bahwa telah melakukan 12x putaran. Kalau dihitung kilometer tempuh dibagi 1x putar 520 meter itu dapat 12,5x putaran. 

Pencapaian ini bisa dibilang biasa saja sih, ya medium. Karena batas normalnya diangka 10x putaran, batas rendah itu di 5x putaran. 

Segitu saja sepertinya rekaman aktivitas jalan sabtu pagi di pekan ini. Kita lihat pekan depan, seperti apa pencapaiannya, ikut olahraga atau tidak, kita lihat nanti. Sampai jumpa dipostingan berikutnya. -cpr

#onedayonepost
#saturdaystep
#cloudywalking
#jurnal
#exercise
#strava