Showing posts with label Umum. Show all posts
Showing posts with label Umum. Show all posts

Tuesday, May 26, 2026

Periksa Kesehatan Syarat Pernikahan

May 26, 2026 0 Comments
Kali ini saya mau sharing pengalaman saja, ketika saya dan pasangan tengah melengkapi berkas pernikahan dua minggu sebelum hari H. Jadi setelah semua berkas² yang dibutuhkan untuk persyaratan lengkap semua, ada syarat terakhir yang harus dilengkapi.

Apa itu?

Syarat itu adalah surat keterangan kesehatan dari unit fasilitas kesehatan, dalam hal ini puskesmas. Syarat ini perlu untuk persyaratan di lembaga agama yang akan menikahkan kita. Jadi bukan syarat untuk di Dinas Kependudukan & Catatan Sipil.

Ilustrasi, gambar disiapkan by Gemini

Kalau yang Muslim ya syarat itu untuk melengkapi berkas di KUA, sedangkan kalau non Muslim itu buat syarat pemberkasan di Gereja bagi yang Kristiani. Kalau yang selain itu saya kurang paham, pasti ada lembaga agamanya juga mempersyaratkan itu. Kalau dari pihak Catatan Sipil sendiri tidak minta syarat ini.

Jadi pagi ini saya dan calon istri pergi ke Puskesmas terdekat dengan domisili. Kebetulan calon istri punya teman di Puskesmas ini, jadi untuk pendaftaran dan proses registrasi dibantu, pagi ini puskesmas sedang hetic karena ada jadwal imunisasi, alhasil ramai sekali. Tapi berhubung ada kenalan orang dalam jadi bisa dibantu lebih cepat (terutama proses pendaftarannya).

Setelah selesai di loket atau ruang pendaftaran, di sana data kami diinput disistem puskesmas, kami lanjut ke poli KIA, di sini surat rujukan dari registrasi tadi dimasukan ke poli ini.

Setelah giliran kami berdua masuk kami di data, tinggi dan berat badan. Setelah itu saya diminta keluar sedangkan calon istri lanjut screening dengan petugas kesehatan. Saya menunggu relatif lama, setelah itu keluar mendapatkan surat pengantar lagi ke poli Laboratorium.

Berkas pengantar tadi dimasukan ke poli ini, lalu kamu menunggu dipanggil lagi. Pertama-tama calon istri duluan dipanggil, di sini dia diambil darahnya untuk dites. Setelah dia selesai saya juga dipanggil dan dilakukan tes darah, jadi darahnya diambil di lengan kiri.

Pertama kali ya deg-degan, karena saya takut jarum dan takut sakit. Tapi ya proses berjalan normal, ya sakit tapi kaya lagi dicabutin jenggotnya, begitulah rasanya kira².

Setelah selesai ambil sampel darah, kami berdua diminta menunggu di luar ruang laboratorium, hasilnya sekitar 30 menitan, bisa lebih sedikit.

Setelah tiba waktunya, keluarlah hasilnya. Setelah hasil keluar itu kami kembali ke poli KIA lagi untuk proses lanjutan. Ternyata di sini hanya calon istri atau calon ibu saja yang lanjut diberikan suntikan atau vaksin, sedangkan yang pria itu tidak diberikan vaksin yang diperlukan.

Setelah dari poli KIA ini dapat surat rujukan ke poli apotek untuk menebus obat. Plus juga dari KIA ini keluar surat keterangan yang isinya berhubungan dengan penyakit menular seksual. Obatnya diambil di loket obat dan ternyata isinya hanya obat tambah darah.

Obat TTD yang diterima ini dari pabrikan PT Marin Liza Farmasi (Bandung)

Kebetulan obat TTD yang kami terima ini bukan diproduksi oleh perusahaan dimana saya bekerja, saya juga merasakan sendiri proses pembuatan proses produksi untuk obat TTD, jadi pas terima  obat dari apotek ini langsung terpikir buatan dari pabrik sendiri.

Btw, untuk cek kesehatan dan dapat surat keterangan sehat keperluan pernikahan ini kita tidak mengeluarkan biaya sepeserpun, alias gratis dari Pemerintah. Ini bagus sih, sangat membantu mengurangi beban calon pengantin.

Oh iya, lalu dari proses yang dilakukan ini surat keterangan sehat ini berisi informasi apa saja sih?

Surat itu hanya selembar, tentunya ada kop. surat atas Puskesmas Pandaan. Di dalam surat itu berisi:
- Informasi spesimen, berapa sampel darah diambil dan kapan waktunya
- Data calon pengantin, besisi nama, NIK dan juga usia detailnya
- Hasil pengecekan kesehatan

Hasil pengecekan kesehatannya awalnya saya pikir lengkap seperti apa yang tertulis di Google, eh ternyata informasi yang dicek hanya dua poin saja, bahkan informasi golongan darah juga tidak ada.

Poin pengecekan kesehatannya untuk calon pengantin pria dan wanita hanya dibedakan dengan informasi Hemoglobin saja, kalau di pria tidak ada dan wanita ada.

Yang diuji itu:
🩺 PITC (Provider-Initiated Testing and Counseling) adalah pendekatan tes dan konseling HIV yang diinisiasi dan direkomendasikan secara rutin.

🩺 Syphilis  merupakan prosedur pemeriksaan medis untuk mendeteksi keberadaan bakteri penyebab penyakit menular seksual sifilis (raja singa) di dalam tubuh


Dari keduanya hasilnya non reaktif, entah apakah itu sama dengan hasil negatif, yang berarti dalam sampel darah yang diambil dari diri saya ternyata hanya untuk menguji dua hal tersebut. Tapi saya bersyukur hasilnya ya bagus, karena ya takut aja sempet kepikiran saya gak bisa gemuk apa ada bakteri atau bahaya dari HIV, secara HIV bisa ditularkan melalui hal lain selain hubungan seks, itu kan beresiko sekali. Dulu pernah dengar, ada jarum suntik yang telah terinfeksi HIV ditaruh sembarangan untuk menjebak seseorang untuk ditularkan HIV, jadi takut saja kena dari ketidaksengajaan. Tapi untung hasilnya baik dan dinyatakan aman.


Oh iya, padahal kalau membaca di Google, untuk pengecekan kesehatan calon pengantin (catin) ada banyak yang diuji, bukan cuma dua pengujian itu saja. Apa mungkin karena ini nguji di puskesmas jadi hanya cukup dua uji.

Berikut ini informasi yang diperoleh dari Google poin apa saja yang perlu diuji ketika pemeriksaan kesehatan kebutuhan keperluan pernikahan sbb.:
šŸŒ€ Pemeriksaan Fisik Dasar: Mengukur tekanan darah, berat badan, tinggi badan, dan pemeriksaan organ vital secara menyeluruh.

Pengalaman kemarin, tidak semua dilakukan pada saat pemeriksaan. Yang dilakukan tidak saya berikan coret. Mengukur tekanan darah, berat badan, tinggi badan (ini pun hanya sekedar ditanya, tapi kalau gak gak meyakinkan bisa nimbang dan ukur tingginya).

šŸŒ€ Tes Darah Lengkap: Cek kadar hemoglobin (Hb), leukosit, dan trombosit untuk mendeteksi anemia atau kelainan darah.

Ini dilakukan untuk catin wanita, dari pengalaman saya kemarin, saya tidak dicek HB nya, tapi calon istri yang dicek HB nya ada dikisaran normal atau tidak normal.

šŸŒ€ Golongan Darah dan Rhesus: Sangat penting untuk mencegah inkompatibilitas rhesus (masalah ketidakcocokan darah) dengan bayi di kemudian hari.

Kalau pengujian ini tidak dilakukan pada waktu kemarin saya ke puskesmas. Jadi kami catin tidak dicek soal golongan darah dan rhesusnya, sehingga kesesuaian darah saya dan pasangan saya tidak bisa diketahui.

šŸŒ€ Skrining Penyakit Menular Seksual (IMS): Meliputi tes HIV, Hepatitis B, Hepatitis C, serta tes sifilis (VDRL/RPR).

Dibagian ini yang dicek itu hanya dua poin yaitu Uji PITC untuk HIV dan Uji Sifilis

šŸŒ€ Pemeriksaan Genetik (Thalassemia): Deteksi dini kelainan genetik atau pembawa sifat (carrier) penyakit turunan.

Uji ini pun tidak dilakukan, entah karena keterbatasan alat uji atau reagennya sehingga akhirnya uji ini dilewatkan, padahal kan harusnya diperlukan.

šŸŒ€ Skrining Infeksi TORCH: Tes untuk mendeteksi infeksi Toxoplasmosis, Rubella, Cytomegalovirus, dan Herpes yang dapat memengaruhi kesuburan dan kehamilan.

Ini pun tidak dilakukan sama sekali, padahal dari sampel darah itu kan seharusnya bisa dicek informasi lain yang dibutuhkan.

šŸŒ€Tes Urine: Menganalisis fungsi ginjal dan mendeteksi adanya infeksi saluran kemih atau penyakit tertentu seperti diabetes.

Ini pun tidak dilakukan sama sekali. Padahal jika dirasakan perlu tes ini harusnya juga dilakukan, sehingga benar² dilakukan secara menyeluruh.

šŸŒ€ Vaksinasi Catin: Untuk calon pengantin wanita di Indonesia, biasanya diwajibkan mendapatkan vaksin Tetanus Toksoid (TT) untuk mencegah tetanus pada ibu dan bayi saat persalinan.

Nah untuk vaksinasi ini ternyata yang diberikan suntikan vaksin hanya untuk calon pengantin wanita, sedangkan untuk yang pria tidak diberikan suntikan vaksin apapun.

Saya tidak tahu bagaimana konsepnya, kenapa hanya wanita saja yang diberikan vaksin ini. Kalau kata calon istri, itu karena wanita itu menerima dari laki-laki, sehingga wanitalah yang harus siap dari segala kemungkinan. Karena dari wanita sehat, sumber penyakit itu datang dari si laki-laki, maka itu wanitalah yang harus dijaga.

Padahal sih ya kalau dari logika saya, baik laki-laki dan wanita itu punya potensi dan peluang yang sama menularkan penyakit. Tapi sudahlah, yang dilakukan selama ini begitu, jadi diikuti saja.

Oh iya, kenapa tes yang dilakukan pada catin ini realitanya cuma sedikit saja, itu bisa dimaklumi karena waktu kita cek kesehatan kan semua serba gratis, tahulah kalau gratis ya kita harus terima apa adanya, kalau mau selengkap itu mungkin harus tes yang mandiri, sehingga semua poin yang disebutkan di atas bisa terakomodir. Berhubung saya dan pasangan saya tes di puskesmas dengan menggunakan BPJS jadi beginilah hasilnya. Toh bagi persyaratan pernikahan di lembaga agama ini sudah dikatakan cukup.


Dari hasil tes ini saya dinyatakan sehat tapi ini belum bisa membuktikan apakah kualitas sperma saya baik atau tidak. Biarlah nanti kita lihat prosesnya. Sejauh ini beberapa minggu terakhir saya mengkonsumsi beberapa multivitamin seperti suplemen multivitamin dari Blackmores, Vitamin B12 dan Vitamin E. Itu dalam rangka mengoptimalkan kualitas sperma, mudah-mudahan semua ikhtiar ini berakhir manis pada akhirnya.

Segitu saja deh sharing yang bisa saya bagikan kali ini, semoga bisa menambah informasi seputar persiapan pernikahan. Bisa saja apa yang saya alami saat ini berbeda dengan yang kalian alami karena masalah waktu, sekarang dan nanti, jadi yang penting dipahami saja.

Sampai jumpa dipostingan yang berikutnya lagi, membahas hal lainnya lagi yang ingin saya bahas. Happy blogging and happy sharing. -cpr

#onedayonepost
#umum
#coratcoret
#umum
#tescatin

Wednesday, February 25, 2026

Trip Nge-Grab Tanpa Pikir Panjang (X) Jangan Ditiru

February 25, 2026 0 Comments
Saya mau sharing pengalaman nge-Grab yang tidak perlu dicontoh, karena menerima order tanpa perhitungan matang. Kalau dari pov Grab sebagai penyedia aplikasi, dari customer pasti positif dan mereka senang. Tapi dari sisi pov mitra dan keluarga mitra itungannya rugi. 

Inti pelajarannya saya sampaikan di awal, ketika menerima orderan dan memutuskan orderan akan diambil atau tidak, perhitungkan banyak hal, terutama orderan² jauh, meski nominalnya besar tapi perhitungkan itu. Masuk tidak dari sisi biaya dan keluargamu bagaimana setuju apa tidak. Karena kalau tidak yang ada itu hanya akan merepotkan mu saja dan bikin tidak konsentrasi di jalan. Ini hanya cocok untuk mitra yang berstatus jomblo tak punya keluarga dan hidup hanya untuk diri sendiri, melayani itu adalah 'jalan ninja' terbaik dalam hidup. Tapi selain dari itu lebih baik pertimbangkan matang².


Jadi ditanggal 23-03-2026 yang lalu hari itu saya sebenarnya sudah ada janji jemput keluarga jam 20:00 di Stasiun Pasar Turi, Surabaya. 

Hari itu memang saya libur, jadi sebenarnya saya bisa ambil order untuk nambah pendapatan sampingan. Namun pagi hingga siang itu sepi sekali orderan di Pandaan. 

Rencana saya ini: dari pagi saya sudah ke Surabaya, narik di sana sambil menunggu jemputan jam 8 malam. Tapi ternyata orang dekat menyarankan lain, suruh saya stay di Pandaan dan sore baru ke Surabaya. Padahal kalau di Surabaya saya yakin bisa dapat lebih banyak dengan trip di dalam kota. Tapi daripada ribut, diiyakan saja waktu itu. Alhasil saya narik di Pandaan. 

Ketika sore saya coba narik dan dapatlah itu trip pertama ke Kota Pasuruan. Rencananya sore itu menunjukan pukul 16:00, saya otw arah Surabaya dengan setting di aplikasi tujuan Surabaya. Eh belum saya lakukan, orderan masuk lah. Nominal besar dan tanpa pikir panjang saya ambil, pikir ya gak terlalu jauh. 

Jadi kaya begini, sebelumnya tujuannya tertulis Malang, tapi ternyata Pasuruan. Nah ini tertulis Blitar, saya pikir ya deket² Malang lah, masih oke. Tapi ternyata ini bener² Blitar, kotamadya nya pula, estimasi waktu 5 jam perjalanan. Salahnya itu semua baru saya perhitungan setelah saya mengiyakan orderan dan memutuskan setuju membawa penumpang. Saya hanya takut kalau dicancel performa saya jadi buruk dan merusak orderan otomatis yang selama ini saya terima, alhasil saya memilih ambil. 

Ternyata ini membawa masalah, keluarga ngamuk, yang satu gak terima atas kebodohan saya itu, satu lagi kecewa karena sudah janji jemput ontime akhirnya terlambat hingga beberapa jam. 

Alhasil saya membawa penumpang dengan tidak tenang, kepala dipenuhi beban pikiran. Wes campur aduk gak karuan. Alhasil ini jadi perjalanan antar kota kabupaten yang melelahkan secara fisik dan mental. 

Perjalanan Menuju Kota Blitar
Perjalanan menuju Kota Blitar ini saya lewat jalur tol mulai dari GT Purwodadi keluar GT Sawojajar. Selanjutnya dilanjutkan jalur biasa yang sempit dan padat. Tanggal itu adalah tanggal arus balik mudik, jadi ramai sekali. 

Kota Pasuruan - Kabupaten Pasuruan - Kabupaten Malang - Kota Malang- Kabupaten Malang - Kabupaten Blitar dan tiba di Kota Blitar sesuai tujuan alamat. 

Perjalanan berangkat saya pakai mode berkendara normal, karena saya bawa penumpang. Meski saya gak sabar karena stres keluarga ngamuk², saya tetap berusaha tenang dan sabar dalam berkendara. 

Sempet juga mau laka tapi untung nyaris dan saya masih dilindungi, efek nama baptis asal saya adalah St. Christopher yang katanya sebagai pelindung perjalanan. Mungkin jika saya membawa nama lain ceritanya berbeda. 

Di perjalanan sempet berhenti beberapa kali, pertama itu istirahat makan di daerah Kepanjen (selepas Kepanjen), kemudian isi BBM di arah mau menuju bendungan, lalu istirahat lagi (ke toilet di Indomaret) setelah lepas bendungan. 

Selesai menurunkan penumpang rasanya legah, karena saya tinggal mikirkan bagaimana jalur tercepat menuju Surabaya sesegera mungkin, kalau bisa terbang ya terbang deh. 

Diwaktu yang singkat itu, saya coba kalkulasi dengan GMaps, rute tercepat mana. Karena melihat jalur arah balik yang tadi saya lewati itu macetnya ampun²an, dibeberapa titik macet gila, gak ngebayangin saya balik lagi di jalur itu dan ketahan macet, bisa gila saya. 

Akhirnya diputuskan saya memilih jalur Blitar - Kediri - Jombang - Mojokerto - Surabaya. Jalur yang estimasi waktu tempuhnya sekitar 4,5 jam ketika itu. Itu tidak tahu macet atau tidak, karena tidak tergambar dengan pasti dari GMaps. 


Perjalanan Blitar - Surabaya
Settingan GMaps sudah sesuai, saya coba menuju Surabaya dengan arah Maps yang sudah disetting itu. Awal saya setting tanpa tol, karena mengingat saldo e-money saya terbatas hanya 50K saja, jadi saya harus sesuaikan dengan rute tercepat dan biaya yang efisien. 

Saya tahu bahwa jarak ini tidak bisa dipangkas, yang bisa dipangkas itu cuma waktu tempuhnya, cara pangkasnya cuma dengan menaikan kecepatan kendaraan yang saya naiki ini. 

Logika sederhana yang saya pakai, jika jaraknya itu 70 km, butuh waktu 1 jam jika saya menggunakan kecepatan konstan 70 km/jam, saya bisa lebih cepat lagi dari satu jam jika saya tingkatkan kecepatan saya diatas 70 km/jam.

Akhrinya saya memacu SiDat dengan gila²an, kebetulan jalan sepi. Jadi jalan daerah yang sempit yang harusnya di sana maksimal kecepatan di 40 km/jam saya lajukan kendaraan di 60-70 km/jam. Di jalan yang agak lebar bisa 1-2 mobil bejejer saya pacu 90-100 km/jam. Sisanya pas sudah sampai Surabaya saya ada akses tol, saya pacu > 100 km/jam.

Alhasil itu saya bisa pangkas waktu tempuh yang cukup lumayan, hingga sejam sendiri, sekitar 3,5 jam bisa saya capai. Bener² gila sih, pokonya saya gak mau ada di belakang kendaraan lain, karena mereka itu lambat. 

Saya beruntung jalur yang saya pilih ini lengang banget, sempet diguyur hujan juga, cerah, hujan lagi. Selain itu beruntung lagi ban gak bocor, itu yang saya khawatirkan selama perjalanan. 

Jadi selama perjalanan saya blas gak mengamati saya sudah lewat mana, ada apa di kiri kanan, sudah pokoknya saya melaju hanya lihat kilometer yang semakin  berkurang karena menuju lokasi tujuan. 

Saya hanya lihat atau tertarik pada penanda arah yang menunjukan ke arah Gunung Kelud, nah di situ saya mikir wah gila ya perjalanan saya ini, saya pernah mau menuju ke arah gunung itu, katanya sih bagus view nya. Entah kapan saya bisa ke sana, kayanya gak akan mungkin deh. 

Saya cukup tenang ketika melintas di daerah Mojokerto, di mana saya sering lewat jalur itu, kemudian arah Gresik, hingga akhirnya saya menemukan jalur masuk tol ke arah Surabaya. Sudah makin tenang langsung makin gas poll hingga akhirnya tiba di stasiun. 


Setelah semuanya selesai, saya lihat timeline perjalanan saya di GMaps, ternyata saya melakukan perjanalanan memutar, dan itu gila sih. Total kilometer yang ditempuh hari itu, dalam satu hari habiskan 383 km. 

Ini perjalanan singkat dan melelahkan, gila saya bener² kurang tidur, karena saya istirahat hanya sebentar, pagi jam 4 sudah keluar rumah lagi, walau akhirnya rencana berikutnya kacau berantakan. 

Itu dia jurnal yang bisa saya catat, sebagai pengenang dan pengingat yang baik. Pelajaran yang sangat berharga, "jangan jadi hamba uang", selalu berpikir sebelum melakukan, karena saat ini saya tak lagi sendiri, banyak kepentingan ada pada diri saya. 

Kalau seperti ini terkadang berpikir lebih baik hidup sendiri, karena semua keputusan mau salah atau benar, semua ada ditangan mu sendiri, bukan ditangan orang lain. 

Tapi sudahlah, hidup telah dituliskan begini, lakukan saja yang terbaik, semua pasti ada hikmahnya. -cpr

#onedayonepost
#jurnal
#jalanjalan
#umum
#blitar

Sunday, February 15, 2026

Trip Trans Jawa Timur Koridor K1 : Batu - Kayutangan

February 15, 2026 0 Comments
Menikmati aktivitas awal pekan diweek pertengahan Februari 2026 ini saya dan Dewi sedang berada di Kota Batu. Kami ingin mencoba moda transportasi umum yang diprakarsai Pemprov, Trans Jatim yang dioperasikan menghubungkan Kota Batu dan Kota Malang.
 

Transportasi umum ini nampaknya disambut positif masyarakat Kota Batu dan Kota Malang. Program yang baik ini mendukung pariwisata di dua tempat berbeda ini. Serta juga mendukung pergerakan ekonomi warga dari satu tempat ke tempat lain. Secara tidak langsung juga mengajak warga untuk menggunakan moda transportasi umum, guna mengurangi kepadatan di ruas penghubung dua tempat ini dari kendaraan warga lokal. 

Halte yang kami naiki waktu awal berangkat

Siang ini saya pergi berempat, start dari halte daerah RS Baptis, Batu tujuan ke kawasan Kayutangan Heritage, Kota Malang. 

Di halte ini ada fasilitas colokan listrik buat charger, sederhana tapi membantu sekali

Arah pulangnya kami naik dari halte seberang MOG dan turun di halte sebelum RS Baptis, seberang Indomaret kalau gak salah, daerah Tlekung, Batu. 

Bus Trans Jawa Timur yang yang naiki ini adalah bus koridor K1. Bus koridor ini dinamai Gajayana. Mulai beroparsi November 2025 yang lalu. Rute awalnya adalah Terminal Hamid Rusdi (Malang) dan Terminal Batu. Jam operasional mulai pukul 04:00 sampai dengan pukul 22:00.

Jarak dari Malang - Batu sekitar 42 km dan arah Batu - Malang sekitar 39,35 km. Untuk tarifnya itu Rp 5.000,- untuk orang dewasa dan umum, ada tarif subsidi untuk mahasiswa. Anak dengan tinggi tertentu juga dikenai tarif normal. 


Sewaktu berangkat itu bus relatif ramai, banyak penumpang berdiri di bagian tengah bus, ya walau tidak berdesak-desakan, tapi pagi itu cukup ramai sekali sih. 

Sensasi naik bus ini ketika berdiri adalah sensasi goyangannya, karena ketika ada di wilayah Batu, Sengkaling, Tlekung itu jalurnya belak-belok, jadi ada sensasi bergoyang kanan-kiri, seru sih ini. 

Saya jadi ingat momen ketika saya hidup di Jakarta, naik kendaraan umum seperti ini jadi makanan sehari-hari. Saya menikmati naik transportasi ini, walaupun harus berdiri sejak awal sampai akhir perhentian. 


Sampai di Kayutangan, halte tidak jauh dari Gereja Katolik yang di simpangan Kayutangan, saya pernah ke sana, tapi lupa nama parokinya. 

Ngemil jadah bakar, sambil duduk di kursi² yang tersedia di trotoar

Sampai sana jajan cilok dulu di halte. Lalu kami berjalan ke arah perempatan yang ada Lafayette, kemudian lanjut terus ke swalayan Lai-lai untuk belanja kue basah dan bumbu masak tertentu.

Ini pas mau menuju swalayan Lai-lai

Belanjaan dari Lai-lai, gak banyak tapi perlu


Dari situ berjalan lagi ke arah MOG, kita muter waktu itu, sempet berhenti di sebuah masjid yayasan Khadijah kalau gak salah. Kebetulan ada tukang jualan bakso malang pikulan, kami beli dan makan di pinggir jalan, sembari menunggu ada yang sembahyang. 


Total perjalanan jalan kaki ini habiskan jarak 2 km sepertinya ya, dari turun halte sampai naik halte lagi, dengan rute memutar. 

Suasana Kayutangan Heritage ya ramai sih, banyak orang berwisata di sana, entah memang mereka orang Malang atau luar Malang tidak bisa dipastikan. Seru jika pas ke sini lagi ada momen² acara tertentu jadi ada yang dilihat. 

Ini pov di dalam bus, enak lho naik bus begini terus tidur, bus nya nyaman, AC nya dingin pula

Ini saya foto dari kursi belakang, yang agak ke bawah, baru awal masuk bus, kursi yang depan masih keisi, jadi duduk di sini dulu

Pas naik bus K1 arah kembali ke Batu kebetulan kita naik bus yang sama sewaktu berangkat tadi, kami mengenali dari mas petugasnya. Kita pulang itu sepi, ya setidaknya kita berempat bisa dapat tempat duduk, nyaman duduk sampai perhentian terakhir di halte sebelum RS Baptis. 

Dari situ kami lanjut jalan kaki ke arah rumah, gak jauh, ya lumayan untuk berolahraga memperbanyak langkah dan kilometer jarak. 

Itulah kira² jurnal aktivitas jalan² di awal pekan ini, ya pekan kejepit karena Senin besok kejepit libur imlek, buat yang punya libur ya enak bisa menikmatinya, tapi buat pekerja 'kasar' ya tetap masuk kerja, kalau gak dapat uang dari mana buat berlibur apalagi sedang mempersiapkan suatu acara begini. #semangat

Sampai jumpa dicatatan jalan² lainnya lagi. Segitu saja yang ingin saya rekam di sini. -cpt

#onedayonepost
#firstimpression
#jalanjalan
#jurnal
#transjatim
#gajayana

Saturday, November 1, 2025

Tiba-tiba Kangen Single Camp

November 01, 2025 0 Comments
Sudah lama memang saya gak ngecamp sendirian, terakhir itu pas ngecamp dimana ya, sampai lupa sendiri. Memang sih bisa dicari catatan jurnalnya diblog pribadi saya ini. 


Ngecamp terakhir kemarin saya pergi bersama keluarga (pasangan dan adik), ngecamp di tempat camp favorit kita, ya jadi favorit saya juga sih untuk saat ini. 

Ilustrasi yang dibuatin oleh ChatGPT

Tapi tumben aja koq dihati dan pikiran ini koq kangen ngecamp sendirian lagi. Dulu ya sebelum saya kembali punya pasangan, pas Kamis malam atau Jumat malam menjelang Sabtu, saya sering searching camp ground² baru yang sekiranya bisa saya kunjungi untuk ngecamp di sana. 

Search diblog atau di Youtube, dari akses ke sana, fasilitas yang tersedia sampai plus minusnya saya kalkulasi dan sesuaikan dengan kebutuhan psikis saya. 

Jadi gini, misalkan tempatnya itu minim sinyal, kemudian tidak ada akses listrik dan kamar mandi kotor, akses air bersih sulit itu sudah pasti tidak akan masuk pilihan rekomendasi. Memang sih pernah saya ngecamp dengan kondisi seperti itu, ya sejauh itu masih enjoy saja, tapi sejak saya ngecamp di beberapa tempat akhirnya saya punya kriteria penilaian tersendiri. 


Lalu apa sih nikmatnya ngecamp sendiri? 

Meskipun ngecamp yang enak ya ramai² dengan teman² atau pasangan atau keluarga, tapi entah kenapa ketika ngecamp sendiri itu punya sensasi tersendiri. 

Post ini saya tulis ketika malam hari, jam 20:47, ini jam dimana jika kita ngecamp suasananya sepi, sendiri, terdengar suara serangga malam dan hawa dingin khas alam terbuka. Biasanya jam segini sudah selesai makan malam, dan sudah bersantai di dalam tenda, entah nyambi ngopi atau ngemil. 

Pada momen inilah kayanya yang tenang dan damai, entah ngelamun atau sekedar open blog dan menulis. Intinya saya dapatkan ketenangan ketika saat itu. 

Dulu ketika ngecamp saya masih aktif merokok, jadi biasanya sambil ngopi atau ngeteh ya sedikit sebatang dua barang rokok aroma cappucino atau latte. Duh koyoe iku damai banget, masalah² yang ada seperti disimpan dulu di lemari. 

Malam di area camping ground itu bisa jadi malam panjang. Ditemani suara² keceriaan orang lain yang juga ngecamp di tempat tersebut, ketika dapat camp ground yang ramai, cuma kalau sepinya sepi, cuma sendiri ya saya pernah merasakan. 

Untuk saat ini dan kedepan saya gak akan mungkin lagi ngecamp sendirian, karena saya sudah punya pasangan dan alat kompor saya sudah tidak ada, kompor jadi alat terpenting sih. Soalnya belum boleh beli perabotan yang tidak penting katanya calon istri. "Hobi itu dilakukan ketika kebutuhan dasar semua sudah terpenuhi."

Postingan ini saya buat untuk mencurahkan rasa kangen saja sih momen² dulu. Tapi ingat ya, bukan untuk melakukannya lagi saat ini dan bukan dalam arti tidak bersyukur dengan kondisi saat ini ya, ini saya disclaimer dulu supaya tidak terjadi salah pemahaman. Maklum saya sering menggunakan diksi² yang membuat salah pemahaman. 

Dokumentasi dan catatan² saat camping itu yang bisa jadi 'obat' ketika kangen seperti ini dan beberapa video Youtube yang pernah dibuat juga bisa jadi obat kangen. 

Kalau kamu pernah mengalami apa yang saya alami seperti ini? 

Kalau pernah apa yang kamu lakukan? 

Saya coba komunikasi dengan ChatGPT. Soal apa yang saya rasakan saat ini. Saya mengajukan pertanyaan ini ke ChatGPT:
Hai, tahun lalu saya sering ngecamp sendirian, pergi hari Sabtu seperti ini, pulang kerja langsung menuju camping ground. Pergi ngecamp sendirian. Sekarang saya sudah gak bisa lagi seperti itu, karena sudah punya pasangan dan gak bisa pergi bebas seperti dulu. Menurut kami, apa yang harus saya lakukan untuk mengobati rasa kangen momen² tersebut? Ada saran?

Hasilnya saran dari ChatGPT seperti ini:
#1 Dia sarankan lakukan micro adventure. Jadi tiktok gitu, pergi ke alam, berangkat sampai di tujuan ngopi atau ngeteh dan santai sejenak lalu langsung kembali pulang, tanpa menginap, itu solusi yang bisa saya lakukan. 

#2 Negosiasi dengan pasangan untuk butuh ruang sendiri atau waktu untuk sendiri. 

Saran satu ini rasanya bukan saran, karena pilihannya cuma hanya satu yaitu ngecamp dengan pasangan. Hmm, kalau hanya berdua sih kayanya boleh saja deh, seru ini. Kangen camp sendiri terbayar lunas deh. 

#3 Ganti ritualnya dengan bentuk lain, misalnya pergi ke taman, dengarkan musik dan sambil blogging santai. 

#4 Ajak pasangan untuk andil dalam aktivitas solo camp yang dulu pernah saya lakukan. Ini sih oke kalau ngecamp hanya berdua dengan pasangan. 

#5 Tulis dan dokumentasikan momen² lama itu. Sekaligus sebagai sarana nostalgia dan mengenang. Untuk ini untungnya saya punya catatan diblog pribadi saya yang bisa saya pakai untuk nostalgia sebenarnya. 


Sarannya ya cukup masuk akal sih. Tapi memang solusi terbaik adalah ngecamp berdua dengan pasangan, karena itu malah akan membuat hubungan makin intim berdua. 

Begitu saja deh corat-coret gak penting sih dimalam minggu pas lagi gak malam mingguan, pas habis berantem hebat dengan pasangan, sudah hampir dua minggu ini hubungannya sedang roller coaster. Jadinya malam minggu saya hanya bermain kata² dengan blog² pribadi. 

Sampai jumpa dipostingan lainnya. Happy healing and travelling is good solution for refreshing your brain from 'ketidakpastian dunia'. Bye. - cpr

#onedayonepost
#kangencamp
#coratcoret
#camping
#jurnal

Thursday, October 30, 2025

Rumah Sederhana Plus Warung Kopi & Teh Pribadi

October 30, 2025 0 Comments
Tiba² saya terpikirkan sebuah angan punya rumah sederhana dimana di depan rumah ada warung kopi kecil. Supaya bisa pas malam sepulang kerja atau pagi saat sarapan bisa memanfaatkan ruang pribadi ini. 

Ada apa saja di warung kopi pribadimu? 

Hmm saya sih gak muluk²,  standar saja lah untuk membuat kopi atau teh, dengan cangkir atau gelas yang mendukung. Bisa juga dimanfaatkan sebagai ruang tamu, menyajikan minumannya bisa langsung di depan layaknya warung kopi. 

Ilustrasi, gambar ini dibantu dibuatkan asisten pribadi saya ChatGPT

Saya pakai istilah 'kedai' aja deh ya, lebih modern. Kalau dibayangan saya itu di kedai kopi pribadi ini tersedia mesin espresso mini, grinder kopi, toples² kopi beragam kebun baik dari arabica dan robusta, cangkir² kopi dan cangkir khusus teh, teko, jug, V90, vietnam drip, beragam toples teh dari beragam pabrikan teh.

Ya tersedia juga seperti kopi² instan sachet, buat yang ingin praktis atau sekedar kopi tubruk bisa dilayani. Untuk bonusnya mungkin bisa ditambahkan indomie rebus dan gorengan² sederhana lah, teman ngopi atau ngeteh. 

Meski saya bukan barista, tapi ya dulu ditahun² sebelumnya saya pernah punya hobi kopi dan punya beberapa alat kopi. Belakangan saya sudah mengabaikannya karena kesibukan lain. 

Tapi seru aja kalau punya itu di rumah sendiri, tapi memang syaratnya rumah kita itu harus sering disambangi tamu, jadi ya bisa nyambi usaha juga, tapi harus siap capek sih. 

Atau misalkan, ada acara² khusus saja dibuka, misalnya pas acara ronda malam, pas kebetulan rumah kita jadi base camp pos jaga, nah disitu kedai kopi kita bisa berfungsi layaknya kedai. 

Di sana bisa jadi tempat usaha yang menghabiskan atau hobi yang mengusaha. Apalagi jika punya pasangan dan anggota keluarga pecinta atau penikmat kopi, pastinya hal seperti ini gak akan sia² pasti juga akan didukung dengan baik. 

Ini dia suasana yang pas, sore hari sepulang kerja, ngopi sembari menunggu waktu makan malam. Gambar dibantu dibuatkan ChatGPT

Kopi yang pertama saya akan buat adalah americano, pesanan pasangan saya yang terkadang sering terabaikan. Americano spesial yang saya buat untuknya. 

Kalau kamu kira² punya mimpi atau hayalan apa? -cpr

#onedayonepost
#kedaikopipribadi
#wish&dream
#umum
#kopi
#teh
#imajinasi

Friday, October 24, 2025

Kesehatan Mental - Hidup dengan Asumsi / Persepsi / Perkiraan / Dugaan

October 24, 2025 0 Comments
Akhirnya setelah sekian lama hidup, ada suatu hal yang bisa ditarik kesimpulan, bahwa saya terbiasa dengan menggunakan asumsi, menduga, memperkirakan, meramalkan tentang sesuatu yang akan terjadi ke depan. Baik tentang apa yang terjadi, tentang seseorang, atau apapun. 

Karena terbiasa dengan hal tersebut akhirnya saya juga terbiasa menduga dan memperkirakan hal yang belum terjadi, "kalau tidak begini ya kayanya begitu, kalau tidak begitu ya paling begini", akhirnya ya berkutat pada itu saja. Padahal juga, realitanya ada yang begitu, tapi saya akhirnya terbiasa memukul rata. 

Ilustrasi, gambar diambil dari ChatGPT

Saya sering memang sepotong-sepotong menangkap kesimpulan, kalau misal: "1+1=2, ya sudah sih, kalau gak 1 ya 2, kalau gak 2 ya 1", saya terbiasa membolak-balikannya. Akhirnya saya juga terbentu pola pikir yang terbolak-balik. 

Emang agak lain cara saya berpikir ini. Nampak akan biasa saja jika hidup dengan orang biasa yang tidak terlalu memusingkan hal kecil. Nah akan bermasalah jika bertemu atau berinteraksi dengan orang yang memperhatikan hal detail, kecil, apalagi perfeksionis, akan selalu ada masalah. 

Nah itulah yang terjadi saat ini yang akhirnya membuat saya jadi oleng. Setidaknya itu yang dinilai teman yang selama ini mengenal pribadi saya seperti apa. 


Hal yang saya jelaskan di atas itu adalah bentuk kesehatan mental yang 'bermasalah', ada yang gak normal menurut kesehatan mental. Jadi bisa dikatakan saya itu SAKIT menurut yang ideal. 

Kepastiannya saya peroleh ketika saya mengikuti seminar kesehatan mental, hmm bukan seminar sih itu, tapi saat penyampaian firman pada saat Ibadah Raya rutin mingguan di gereja, kebetulan penyampai firman adalah seorang psikolog atau konselor. 

Berikut saya berikat potongan cuplikan apa yang beliau sampaikan. Untuk cuplikan panjangnya bisa tonton di channel ini. 


Belakangan saya sudah mulai mengurangi atau menghindari menggunakan kata 'saya kira', 'saya duga', 'kayanya', 'sepertinya' dsb., karena kata² itu yang mendukung terjadinya pemaknaan asumsi. 

Ternyata kalau dipikir-pikir sulit juga ya menjadi manusia, harus begini, begitu, harus ideal ini itu. Padahal disatu sisi ada pula yang hidup ya biasa saja bisa hidup tanpa harus mengikuti aturan ideal yang seharusnya. 

Sejujurnya yang saya jalani selama ini tidak mengganggu terlalu, atau mungkin saya gak menyadarinya karena saya mungkin saja cuek dan gak menganggap penting, ketika saat ini ada benturan dengn pihak lain barulah sepertinya penting. Mungkin karena itu sih. Tapi jika tidak ada benturan ya akan dianggap biasa.


Saya coba tanya ke ChatGPT soal apa yang saya alami. Aplikasi ini yang kini jadi teman saya bercerita dan bertanya banyak hal, dia bisa lebih bisa menerima apa yang terjadi dan cara dia memberi tahu tidak menjudge kita yang sedang berubah. 

Menurut ChatGPT terlalu banyak asumsi yang berlebihan itu ketika dia menimbulkan gangguan dalam kehidupan sehari-hari kita. 

Contohnya begini: kita sering menebak maksud orang lain, mencurigai sesuatu tanpa bukti, dan itu menimbulkan stres, kecemasan, dan salah paham sosial. Kemudian ciri lainnya sbb. :
šŸ‘‰ Pikiran terus menerus mencurigai atau takut akan sesuatu yang belum tentu benar. ❌
šŸ‘‰ Sulit membedakan fakta dan dugaan. ✅
šŸ‘‰ Gangguan tidur atau sulit fokus karena pikiran memutar banyak kemungkinan². ✅
šŸ‘‰ Menghindari orang atau situasi karena ketakutan yang belum terbukti. ❌

*belakangan saya sulit fokus tapi sebenarnya karena bingung mau mengerjakan yang apa dulu, karena semuanya mengejar saya,  saya tidak bisa atau bingung bedakan mana yang harus duluan mana yang tidak, karena semuanya mau duluan. Sedangkan saya gak pernah memaksa orang melakukan seperti yang orang paksakan pada saya, saya justru lebih bisa memaklumi orang lain dan menunggu. 

Langkah mengatasinya atau meminimalisir yaitu:
šŸ“Œ Sadari kapan asumsi muncul, catat pemicunya
šŸ“Œ Uji pikiran itu: apalah saya punya bukti? 
šŸ“Œ Tunda kesimpulan sampai ketemu faktanya dulu. 

Untuk sementara sepertinya itu dulu yang akan saya lakukan. Kurangi banyak menjawab dan mengomentari sesuatu didunia nyata. Salurkan apa yang ada dikepala ke blog saja, di sana akan lebih aman. Jika ada yang salah paham kan bahasa tertulis mudah-mudahan sih bisa lebih dipahami, walaupun terkadang di sini saya juga masih suka menggunakan diksi² yang aneh. 

Saya juga terinspirasi dengan perumpamaan, "meski kalian mendengar dan membaca kalian tidak  akan tahu maknanya jika dia tidak bener² memahaminya". Karena keseringan pakai pola seperti ini maka akhirnya jadi begini ini saya ini. 

Bagi orang yang sehat mental, apa yang saya lakukan ini dianggap tidak normal, sehingga dikatakan mayoritas orang tidak sehat mental. 


Begitulah kira² lah yang tengah saya rasakan dan bimbangkan, kurang²ilah berpikir menduga, ya terjadi-terjadilah seturut kehendak-Mu. -cpr

#onedayonepost
#opini
#umum
#jurnal

Sunday, October 19, 2025

Sunday Step #3: Walking Replace Saturday Step

October 19, 2025 0 Comments
Sabtu ini saya tidak ikut aktivitas rutin olahraga di kantor, alasannya karena celana olahraga saya belum selesai dicuci, dua set celana masih dilaundrykan. Soalnya begini, aturan yang terlalu ribet, membuat hal seperti ini jadi kendala untuk ikut, padahal saya ada celana pendek, tapi standar tinggi bahwa olahraga harus dengan kostum olahraga itu jadi penghalang. 

Sebenarnya, olahraga itu karena pakaian atau memang keinginannya sih? Pilih salah satu, jangan serakah!!! Kalau tersedia pastinya diusahakan, jika tidak why not tidak salah satunya! 

Ini rute yang saya lewati, totalnya 6,6 kilometer #dokpri

Kita lewati saja ya, maklum agak emosi saya dengan yang hari Sabtu itu. Tapi sekarang Minggu. Sebenarnya masih sama, celana training saya masih belum diambil, jadi saya pakai celana chinoss untuk olahraga kali ini. 

Rute sunday walking kali ini adalah Taman Dayu. Saya pakai aplikasi Strava untuk merekam aktivitas saya kali ini. Kebetulan Strava lagi open untuk semua fiturnya selama 30 hari gratis, kalau normal gak bisa pakai fitur² ini karena harus berbayar. Jadi pas lagi bisa akses fitur baru jadi saya beruntung saja. 

Saya start mulai jalan sekitar jam 07:35. Saya mulai dari rumah, berjalan kaki. Janjian bertemu dengan calon istri (Dewi) dan Dessy di jalan. Mereka parkir di Food Veranda Taman Dayu. 

Dari rumah saya berjalan ke arah mereka parkir. Sampai di belokan Taman Dayu, saya lihat Dewi sudah mulai jalan sampai di titik itu, lalu saya menghampirinya dan putra arah kembali ke arah atas. Menuju puncak pos kuning Taman Dayu (Gerbang masuk kompleks elit Perumahan Taman Dayu). 

Dari sana putar balik lagi ke arah parkiran. Tapi saya putar balik berpisah dengan Dewi di belokan Wisata Panci, saya harus balik ke arah rumah untuk mengakhiri sunday walking ini, sedangkan Dewi dan Dessy melanjutkan perjalanan menuju parkiran untuk mengakhiri sunday walking mereka. 

Total aktivitas sunday step kali ini saya habiskan total jarak 6,62 kilometer dengan  waktu tempuh tempuh 1 jam 07 menit. Pace rata-ratanya ada diangka 10,08/km.

Rute Taman Dayu ini lebih bervariasi medannya, ada landai, naik dan turun, lebih menyenangkan jika dibandingkan rute tiap Sabtu, dimana sudah seperti sirkuit yang itu² saja handicapnya, ditambah tidak ada peneduh, panas nya lebih terik kena kekulit dan itu gak sehat. 

Secara statistiknya bisa dilihat dibawah ini:

Jika dikonversi ke putaran 520 meter, jadi 12,73x putaran

Jika lihat pace tercepat diangka 9:17/km lebih lambat dari capaian tercepat saya 8 menit'n per km. #dokpri


Untuk elevasi saya koq agak meragukan keakuratannya ya, soalnya elevasinya koq rendah dibandingkan dengan di office, padahal ya lumayan lho tanjakannya. #dokpri

Menyenangkan sih Sunday step seperti ini, jika rutin, ada aplikasi yang bisa mencatat aktivitas olahraga kita jadi tidak terasa sia².

Minggu pagi Taman Dayu ramai sekali banyak orang aktivitas olahraga jalan kaki, ya ada yang jogging, running, cycling, dan sunmori juga. Maklum gaya hidup sedang viral, ikut² ala Japannese Walking. 

Oh ya, saya juga share kan video rute jalan saya minggu pagi ini, fitur dari Strava yang terbuka, kemudian saya screen capture video supaya bisa saya bagikan di sini, soalnya waktu free nya hanya 30 hari dari sekarang jadi rugi gak dimanfaatkan. 



Segitu saja catatan Sunday step yang bisa saya bagikan, mudah-mudahan sih rutin, seminggu bisa dapat up to 5 kilometer, syukur² bisa capai diangka 8 kilometer per minggu itu baik. 

Sampai jumpa dipostingan lainnya lagi, jumpa lagi pekan depan, Saturday step again. -cpr

#onedayaonepost
#jurnal
#umum
#exercise
#tamandayu

Monday, October 13, 2025

Standar Camp Ground yang Naik

October 13, 2025 0 Comments
Dulu ketika awal tahun 2024 pas mulai² nya saya suka dengan hobi ngecamp saya menganggap bahwa banyak sekali camp ground di sekitaran Jawa Timur yang belum saya datangi dan ingin saya datangi satu per satu. 

Tapi seiring waktu hingga saat ini, saya merasa koq malah sebaliknya, camp ground yang saya lihat di sosial media, review YouTube yang sudah pernah ke sana koq membuat saya enggan mencoba camp ground tersebut. 

Alasannya, adalah karena fasilitas, kemudian tidak ada yang dilihat, tidak punya sesuatu kekhasan yang membuatnya berbeda dengan yang lain yang bisa dijual, tapi harga tiket nya itu murah meriah seperti kelas camp ground biasa. 

Padahal lho kalau mau hunting memang banyak camp ground di sekitaran Trawas, Mojokerto; lalu kemudian sekitaran Baru; Kabupaten Malang dan sekitarnya, tapi camp ground tersebut seperti tidak masuk standar. 

Usut punya usut nampaknya standar camp ground yang saya punya ini naik kasta. Itu adalah inti masalahnya. 

View area camp ground Sempu Sunset Hills, foto diambil dari camera pribadi yang rusak, jadi agak ngeblur

Jadi saya pribadi, menurut opini saya, saya membagi kasta camp ground itu seperti ini: level #1 itu camp ground sekelas bumi perkemahan; level #2 itu camp ground yang sudah ditata dan memang untuk camp ground dengan yang beralas masih alami rumput atau tanah kering (rumputnya mati karena sering diinjak-injak tenda akhirnya botak) ; dan level #3 itu camp ground kelas glamping. 

Kasta camp ground ini mempengaruhi dari harganya, itu jelas banget. Level #1 dan #2 itu bisa saling sama, harganya unda-undilah. Dihitung hanya per orang yang menginap, mau gunakan berapa tenda itu bebas jika space masih tersedia. Kalau level #3 ini jelas lebih mahal, karena itungannya seperti sewa lahan bayarnya, jadi besar kecil tenda dan banyaknya tenda juga masuk itungan biaya. Umumnya pada level ini, sudah disediakan tenda ukuran besar dengan daya tampung besar dengan fasilitas pendukung outdoor yang lengkap. 

Nah saat ini ternyata selera saya itu ada pada peralihan dari level #1 dan #2 menuju level #3. Sehingga gak banyak camp ground yang bermain di ceruk pasar ini. Karena jelas pasti investasinya lumayan untuk menata camp ground tersebut. 

Ciri khas camp ground yang menuju atau sudah sampai pada level #3 ini:
⛳ Petak camp biasanya diisi dengan gravel, bukan lagi tanah botak yang kotor dan berdebu.

⛳ Jika pun masih menyediakan alas yang masih tanah, biasanya disediakan spot untuk sewa ground, tapi itu pun alasnya bener masih rumput hijau yang seger, biasanya harganya beda atau untuk digunakan kapasitas besar, umumnya penyewa berkelompok. 

⛳ Urusan penerangan sudah merata, jadi area camp terlayani cahaya dengan baik, walau tidak terang tapi cahaya cukup baik. 

⛳ Kelistrikan tersedia di tiap sudut, sehingga yang camping tidak kesulitan mencari sumber listrik. 

⛳ Fasilitas toilet dan mushola itu baik, bangunan permanen / demi permanen tapi bersih dan dirawat baik, pencahayaan cukup, kerusakan fasilitas sangat diperhatikan, sehingga selalu soal digunakan pengunjung. 

⛳ Punya nilai jual sesuatu atau daya tariknya, yang membuatnya berbeda. Misal view city light, view pegunungan, hawa yang sejuk, intinya tempat dimana kita bisa mendapatkan ilham ketika menikmati alam. Bukan yang view menghadap semak² tanpa ada sesuatu yang bisa dilihat (sekedar barisan pohon yang tidak bermakna). 


Nah masalahnya saat ini camp ground yang berada pada level peralihan ini sangatlah sedikit sekali, itu kenapa belakangan saya sangat sulit dalam memilih camp ground yang ingin dicoba. 

Camp ground peralihan ini punya ciri harganya yang masih seperti camp ground level #1 dan level #2. Tapi fasilitasnya sudah mendekati level #3. Yang mulai ada saat ini justru mendekati level #3 tapi harganya juga mendekati level #3, padahal belum sebagus level #3 sebenarnya, tapi dia sudah matok harga yang mahal. 

Untuk saat ini, camp ground yang masuk kriteria saya hanya ada di Sempu Sunset Hills, ini camp ground dengan frekuensi kedatangan paling banyak, dari sejak sebelum ditata sampai perubahannya seperti saat ini. Dari kelasnya level #1, #2 hingga bisa saja dia naikan level menjadi #3 murni apabila dia setting fasilitasnya demikian, terutama dari soal harga dan penyedian tenda² glamping. 


Tapi kalau sudah hal itu yang terjadi, bakal sulit mereka mendapatkan pemasukan dari para campers seperti kita² ini, soalnya kalau yang level #3 paling hanya mereka yang punya uang saja, sedangkan masyarakat yang kelas menengah ke bawah gak akan mampu, justru dia akan mengurangi potensi income yang masuk, itu pilihan tolol sih. Kecuali camp ground itu memang bentuk usaha perhotelan seperti camp ground Baru Camp Site. 

Saya sih sangat berharap Sempu Sunset Hills bisa menjaga levelnya jangan sampai level #3, buat stabil saja dengan jaga camp ground ini tetap punya daya tarik terbaik dan jadi pionir di kelasnya. 

Sambil saya coba hunting² lagi camp ground yang mau naik level tapi perlahan seperti Sempu Sunset Hills ini. Siapa tahu ada camp ground dengan visi serupa, menyediakan area camp ground ciamik dengan harga merakyat. 

Untuk saat ini harga psikologis yang bisa diterima pasar adalah Rp 25.000,- per orang per malam, mendirikan tenda bebas mau pakai 1 atau 2 tenda menyesuaikan jumlah orang saja. Ini untuk level #2 dan peralihan ke level #3.

Untuk kisaran  Rp 15.000,- s/d Rp 20.000,- ini untuk yang level #1. Biaya camp ground dibawah itu kayanya sudah jarang, bumi perkemahan saja ngasi range harga seperti itu. Kecuali mungkin bumi perkemahan model lapangan sepak bola, paling dengan harga 5K - 10K.

Sedangkan yang level #3 yang model glamping dan sewa lahan itu per lahan itu kisaran Rp 100.000,- ini view jelek, tanah atau rumput botak, pojok, kurang nyaman dan strategis, kisaran Rp 250.000,- s/d Rp 300.000,- dan kalau glamping biasanya ratusan ribu hingga jutaan tergantung kapasitas tenda yang disewa. 


Sebagai penutup apa yang saya tuliskan ini disclaimer pendapat pribadi yang mengklasifikasikan beberapa camp ground yang ada di sekitar, saat saya mau menentukan ngecamp dimana. 

Dulu juga pernah saya buatkan preferensi saya dalam memilih camp ground, walaupun saat ini sedikit pergeseran namun secara umum masih sama. Pergeserannya cenderung naik kelas tapi harganya yang gak mau naik šŸ˜…, ya wajarlah namanya juga konsumen, selalu mau enak. 


Kembali semua ke soal selera, saya begini pun itu karena pasangan saya yang punya standarnya lebih daripada saya, jadi ya mau gak mau mengikuti standard ke nyamannya, karena saya kan ngecamp kini gak lagi sendiri, tapi berdua. 


Segitu saja opini saya, bagaimana saya kini memilih lokasi ngecamp, apa yang saya catat ini jadi standar camp ground pilihan. Barangkali kalian ada yang punya rekomendasi camp ground sesuai kriteria dimana pun itu di Indonesia ini bisa share di kolom komentar, supaya buat bahan diskusi dan topik bahasan berikutnya. 

Happy healing, happy camping with your family and your best friends. -cpr

#onedayonepost
#camping
#jurnal
#opini
#campingground
#umum