Tuesday, May 26, 2026

Periksa Kesehatan Syarat Pernikahan

Kali ini saya mau sharing pengalaman saja, ketika saya dan pasangan tengah melengkapi berkas pernikahan dua minggu sebelum hari H. Jadi setelah semua berkas² yang dibutuhkan untuk persyaratan lengkap semua, ada syarat terakhir yang harus dilengkapi.

Apa itu?

Syarat itu adalah surat keterangan kesehatan dari unit fasilitas kesehatan, dalam hal ini puskesmas. Syarat ini perlu untuk persyaratan di lembaga agama yang akan menikahkan kita. Jadi bukan syarat untuk di Dinas Kependudukan & Catatan Sipil.

Ilustrasi, gambar disiapkan by Gemini

Kalau yang Muslim ya syarat itu untuk melengkapi berkas di KUA, sedangkan kalau non Muslim itu buat syarat pemberkasan di Gereja bagi yang Kristiani. Kalau yang selain itu saya kurang paham, pasti ada lembaga agamanya juga mempersyaratkan itu. Kalau dari pihak Catatan Sipil sendiri tidak minta syarat ini.

Jadi pagi ini saya dan calon istri pergi ke Puskesmas terdekat dengan domisili. Kebetulan calon istri punya teman di Puskesmas ini, jadi untuk pendaftaran dan proses registrasi dibantu, pagi ini puskesmas sedang hetic karena ada jadwal imunisasi, alhasil ramai sekali. Tapi berhubung ada kenalan orang dalam jadi bisa dibantu lebih cepat (terutama proses pendaftarannya).

Setelah selesai di loket atau ruang pendaftaran, di sana data kami diinput disistem puskesmas, kami lanjut ke poli KIA, di sini surat rujukan dari registrasi tadi dimasukan ke poli ini.

Setelah giliran kami berdua masuk kami di data, tinggi dan berat badan. Setelah itu saya diminta keluar sedangkan calon istri lanjut screening dengan petugas kesehatan. Saya menunggu relatif lama, setelah itu keluar mendapatkan surat pengantar lagi ke poli Laboratorium.

Berkas pengantar tadi dimasukan ke poli ini, lalu kamu menunggu dipanggil lagi. Pertama-tama calon istri duluan dipanggil, di sini dia diambil darahnya untuk dites. Setelah dia selesai saya juga dipanggil dan dilakukan tes darah, jadi darahnya diambil di lengan kiri.

Pertama kali ya deg-degan, karena saya takut jarum dan takut sakit. Tapi ya proses berjalan normal, ya sakit tapi kaya lagi dicabutin jenggotnya, begitulah rasanya kira².

Setelah selesai ambil sampel darah, kami berdua diminta menunggu di luar ruang laboratorium, hasilnya sekitar 30 menitan, bisa lebih sedikit.

Setelah tiba waktunya, keluarlah hasilnya. Setelah hasil keluar itu kami kembali ke poli KIA lagi untuk proses lanjutan. Ternyata di sini hanya calon istri atau calon ibu saja yang lanjut diberikan suntikan atau vaksin, sedangkan yang pria itu tidak diberikan vaksin yang diperlukan.

Setelah dari poli KIA ini dapat surat rujukan ke poli apotek untuk menebus obat. Plus juga dari KIA ini keluar surat keterangan yang isinya berhubungan dengan penyakit menular seksual. Obatnya diambil di loket obat dan ternyata isinya hanya obat tambah darah.

Obat TTD yang diterima ini dari pabrikan PT Marin Liza Farmasi (Bandung)

Kebetulan obat TTD yang kami terima ini bukan diproduksi oleh perusahaan dimana saya bekerja, saya juga merasakan sendiri proses pembuatan proses produksi untuk obat TTD, jadi pas terima  obat dari apotek ini langsung terpikir buatan dari pabrik sendiri.

Btw, untuk cek kesehatan dan dapat surat keterangan sehat keperluan pernikahan ini kita tidak mengeluarkan biaya sepeserpun, alias gratis dari Pemerintah. Ini bagus sih, sangat membantu mengurangi beban calon pengantin.

Oh iya, lalu dari proses yang dilakukan ini surat keterangan sehat ini berisi informasi apa saja sih?

Surat itu hanya selembar, tentunya ada kop. surat atas Puskesmas Pandaan. Di dalam surat itu berisi:
- Informasi spesimen, berapa sampel darah diambil dan kapan waktunya
- Data calon pengantin, besisi nama, NIK dan juga usia detailnya
- Hasil pengecekan kesehatan

Hasil pengecekan kesehatannya awalnya saya pikir lengkap seperti apa yang tertulis di Google, eh ternyata informasi yang dicek hanya dua poin saja, bahkan informasi golongan darah juga tidak ada.

Poin pengecekan kesehatannya untuk calon pengantin pria dan wanita hanya dibedakan dengan informasi Hemoglobin saja, kalau di pria tidak ada dan wanita ada.

Yang diuji itu:
🩺 PITC (Provider-Initiated Testing and Counseling) adalah pendekatan tes dan konseling HIV yang diinisiasi dan direkomendasikan secara rutin.

🩺 Syphilis  merupakan prosedur pemeriksaan medis untuk mendeteksi keberadaan bakteri penyebab penyakit menular seksual sifilis (raja singa) di dalam tubuh


Dari keduanya hasilnya non reaktif, entah apakah itu sama dengan hasil negatif, yang berarti dalam sampel darah yang diambil dari diri saya ternyata hanya untuk menguji dua hal tersebut. Tapi saya bersyukur hasilnya ya bagus, karena ya takut aja sempet kepikiran saya gak bisa gemuk apa ada bakteri atau bahaya dari HIV, secara HIV bisa ditularkan melalui hal lain selain hubungan seks, itu kan beresiko sekali. Dulu pernah dengar, ada jarum suntik yang telah terinfeksi HIV ditaruh sembarangan untuk menjebak seseorang untuk ditularkan HIV, jadi takut saja kena dari ketidaksengajaan. Tapi untung hasilnya baik dan dinyatakan aman.


Oh iya, padahal kalau membaca di Google, untuk pengecekan kesehatan calon pengantin (catin) ada banyak yang diuji, bukan cuma dua pengujian itu saja. Apa mungkin karena ini nguji di puskesmas jadi hanya cukup dua uji.

Berikut ini informasi yang diperoleh dari Google poin apa saja yang perlu diuji ketika pemeriksaan kesehatan kebutuhan keperluan pernikahan sbb.:
šŸŒ€ Pemeriksaan Fisik Dasar: Mengukur tekanan darah, berat badan, tinggi badan, dan pemeriksaan organ vital secara menyeluruh.

Pengalaman kemarin, tidak semua dilakukan pada saat pemeriksaan. Yang dilakukan tidak saya berikan coret. Mengukur tekanan darah, berat badan, tinggi badan (ini pun hanya sekedar ditanya, tapi kalau gak gak meyakinkan bisa nimbang dan ukur tingginya).

šŸŒ€ Tes Darah Lengkap: Cek kadar hemoglobin (Hb), leukosit, dan trombosit untuk mendeteksi anemia atau kelainan darah.

Ini dilakukan untuk catin wanita, dari pengalaman saya kemarin, saya tidak dicek HB nya, tapi calon istri yang dicek HB nya ada dikisaran normal atau tidak normal.

šŸŒ€ Golongan Darah dan Rhesus: Sangat penting untuk mencegah inkompatibilitas rhesus (masalah ketidakcocokan darah) dengan bayi di kemudian hari.

Kalau pengujian ini tidak dilakukan pada waktu kemarin saya ke puskesmas. Jadi kami catin tidak dicek soal golongan darah dan rhesusnya, sehingga kesesuaian darah saya dan pasangan saya tidak bisa diketahui.

šŸŒ€ Skrining Penyakit Menular Seksual (IMS): Meliputi tes HIV, Hepatitis B, Hepatitis C, serta tes sifilis (VDRL/RPR).

Dibagian ini yang dicek itu hanya dua poin yaitu Uji PITC untuk HIV dan Uji Sifilis

šŸŒ€ Pemeriksaan Genetik (Thalassemia): Deteksi dini kelainan genetik atau pembawa sifat (carrier) penyakit turunan.

Uji ini pun tidak dilakukan, entah karena keterbatasan alat uji atau reagennya sehingga akhirnya uji ini dilewatkan, padahal kan harusnya diperlukan.

šŸŒ€ Skrining Infeksi TORCH: Tes untuk mendeteksi infeksi Toxoplasmosis, Rubella, Cytomegalovirus, dan Herpes yang dapat memengaruhi kesuburan dan kehamilan.

Ini pun tidak dilakukan sama sekali, padahal dari sampel darah itu kan seharusnya bisa dicek informasi lain yang dibutuhkan.

šŸŒ€Tes Urine: Menganalisis fungsi ginjal dan mendeteksi adanya infeksi saluran kemih atau penyakit tertentu seperti diabetes.

Ini pun tidak dilakukan sama sekali. Padahal jika dirasakan perlu tes ini harusnya juga dilakukan, sehingga benar² dilakukan secara menyeluruh.

šŸŒ€ Vaksinasi Catin: Untuk calon pengantin wanita di Indonesia, biasanya diwajibkan mendapatkan vaksin Tetanus Toksoid (TT) untuk mencegah tetanus pada ibu dan bayi saat persalinan.

Nah untuk vaksinasi ini ternyata yang diberikan suntikan vaksin hanya untuk calon pengantin wanita, sedangkan untuk yang pria tidak diberikan suntikan vaksin apapun.

Saya tidak tahu bagaimana konsepnya, kenapa hanya wanita saja yang diberikan vaksin ini. Kalau kata calon istri, itu karena wanita itu menerima dari laki-laki, sehingga wanitalah yang harus siap dari segala kemungkinan. Karena dari wanita sehat, sumber penyakit itu datang dari si laki-laki, maka itu wanitalah yang harus dijaga.

Padahal sih ya kalau dari logika saya, baik laki-laki dan wanita itu punya potensi dan peluang yang sama menularkan penyakit. Tapi sudahlah, yang dilakukan selama ini begitu, jadi diikuti saja.

Oh iya, kenapa tes yang dilakukan pada catin ini realitanya cuma sedikit saja, itu bisa dimaklumi karena waktu kita cek kesehatan kan semua serba gratis, tahulah kalau gratis ya kita harus terima apa adanya, kalau mau selengkap itu mungkin harus tes yang mandiri, sehingga semua poin yang disebutkan di atas bisa terakomodir. Berhubung saya dan pasangan saya tes di puskesmas dengan menggunakan BPJS jadi beginilah hasilnya. Toh bagi persyaratan pernikahan di lembaga agama ini sudah dikatakan cukup.


Dari hasil tes ini saya dinyatakan sehat tapi ini belum bisa membuktikan apakah kualitas sperma saya baik atau tidak. Biarlah nanti kita lihat prosesnya. Sejauh ini beberapa minggu terakhir saya mengkonsumsi beberapa multivitamin seperti suplemen multivitamin dari Blackmores, Vitamin B12 dan Vitamin E. Itu dalam rangka mengoptimalkan kualitas sperma, mudah-mudahan semua ikhtiar ini berakhir manis pada akhirnya.

Segitu saja deh sharing yang bisa saya bagikan kali ini, semoga bisa menambah informasi seputar persiapan pernikahan. Bisa saja apa yang saya alami saat ini berbeda dengan yang kalian alami karena masalah waktu, sekarang dan nanti, jadi yang penting dipahami saja.

Sampai jumpa dipostingan yang berikutnya lagi, membahas hal lainnya lagi yang ingin saya bahas. Happy blogging and happy sharing. -cpr

#onedayonepost
#umum
#coratcoret
#umum
#tescatin

No comments:

Post a Comment